Gerakan #MeToo: Dari Media Sosial ke Perubahan Sosial
Ilustrasi kekerasan seksual--(ANTARA/HO)
#MeToo tidak terlepas dari advokasi. Menurut genetic model of social influence dari Moscovici, kekuatan advokasi termanifestasi melalui perilaku yang ditandai dengan komitmen pada posisi yang diperjuangkan, otonomi dalam pengambilan keputusan, konsistensi dari waktu ke waktu dalam berbagai bentuk, serta keadilan dalam mengakui posisi orang lain.
Para penyintas konsisten berbicara terbuka tentang pengalaman kekerasan seksualnya meskipun menghadapi tantangan dan kemungkinan dampak negatif pada karier atau kehidupan pribadinya. Gerakan #MeToo juga mengedepankan otonomi individu dan mendorong penyintas untuk berbicara berdasarkan pengalaman pribadi tanpa merasa harus mengikuti standar atau batasan dari orang lain.
BACA JUGA:Pascatarif, Trump Versus Powell akan Jadi Guncangan Global Berikutnya?
Gerakan #MeToo juga terus menunjukkan konsistensinya. Meskipun serangan balik dan pengabaian sering kali datang, banyak penyintas tetap konsisten dalam menyuarakan kebenaran sepanjang waktu. Gerakan ini juga meluas ke berbagai sektor dan mode komunikasi, termasuk media sosial, wawancara publik, dokumen hukum, dan diskusi masyarakat.
Para penyintas dan aktivis sadar bahwa tidak semua orang akan setuju atau memahami sepenuhnya pengalaman mereka. Namun, mereka tetap menuntut perlakuan adil dan kesempatan bagi setiap pihak untuk berbicara atau memberi pendapat. Hal ini menumbuhkan ruang aman untuk bersuara dan membuat gerakan ini menjadi masif.
Moscovici menekankan bahwa kelompok minoritas tidak boleh terlalu kaku dalam memperjuangkan sesuatu, dan gerakan #MeToo menunjukkan fleksibilitasnya. Meskipun tegas dalam menuntut perubahan, para penyintas dan aktivis sadar bahwa mereka harus terbuka dengan diskusi dan perubahan dalam memperjuangkan keadilan, sehingga tidak terlihat dogmatis.
Menantang Cara Berpikir Lama
Perubahan pandangan pada kelompok mayoritas kemudian dapat dijelaskan dengan Divergent-Convergent Thought Model dari Charlan Nemeth, sebuah model yang menjelaskan bahwa tekanan dari mayoritas dan minoritas dapat mempengaruhi bagaimana orang berpikir, bukan hanya apa yang mereka pikirkan.
BACA JUGA:Antisemitisme Jadi Alat Perkuat Cengkeraman Otoritas di Universitas AS
#MeToo dimulai sebagai gerakan yang mengguncang norma-norma sosial dan budaya yang telah lama membiarkan atau bahkan mengabaikan kekerasan seksual. Pada awalnya, mayoritas masyarakat mungkin merasa terkejut atau cemas dengan keberadaan gerakan ini, karena hal itu bertentangan dengan norma yang sudah ada.
Model convergent thinking Nemeth menggambarkan bagaimana tekanan mayoritas menyebabkan individu menyetujui pandangan mayoritas secara pasif untuk menghindari konflik. Namun, kesaksian penyintas dalam gerakan #MeToo mendorong divergent thinking, memicu masyarakat untuk mempertimbangkan perspektif baru, meragukan norma yang ada, dan membentuk opini yang lebih reflektif.
Dalam konteks #MeToo, ini berarti bahwa masyarakat yang terbiasa dengan budaya diam terhadap kekerasan seksual mulai mempertimbangkan sudut pandang yang lebih luas, seperti pemahaman tentang trauma, sistem kekuasaan yang melindungi pelaku, serta pentingnya mendengarkan dan mendukung penyintas.
Pengaruh minoritas tidak hanya membantu menghasilkan solusi yang orisinal, tetapi juga memicu pemikiran yang kompleks tentang berbagai pendekatan terhadap masalah yang ada. #MeToo berfungsi sebagai contoh bagaimana keberadaan gerakan minoritas ini memaksa masyarakat untuk melihat masalah kekerasan seksual dari perspektif yang lebih dalam.
BACA JUGA:Upaya Penanggulangan Mafia Hukum dan Peradilan di Indonesia: Tantangan dan Solusi
Alih-alih hanya menerima narasi yang diterima secara umum, seperti "korban mungkin salah atau berlebihan”, #MeToo membuka ruang untuk memunculkan divergent thought, mendorong masyarakat untuk berpikir lebih kompleks mengenai perilaku predator, dampak kekerasan seksual, dan pentingnya perubahan dalam sistem hukum dan budaya yang lebih besar.