Perjudian Berbahaya Donald Trump di Iran, Dunia di Ambang Perang
Ilustrasi: Pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat--(ANTARA/Anadolu/py)
Kondisi ini membuka ruang bagi meluasnya konflik ke luar wilayah Iran dan Israel. Lokasi-lokasi strategis yang terkait langsung atau tidak langsung dengan pihak-pihak yang bertikai—termasuk Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman—bisa menjadi titik rawan baru. Selat ini adalah jalur penting bagi sekitar 30 persen perdagangan minyak dunia.
Iran sendiri bukan pemain baru dalam menghadapi tekanan dan peperangan. Negeri itu pernah menjalani perang delapan tahun melawan Irak (1980–1988), dan sejak 1984 hidup di bawah tekanan sanksi ekonomi ketat dari Amerika Serikat dan komunitas internasional.
Dalam konteks tersebut, bukan tidak mungkin Iran akan mengambil langkah ekstrem, seperti menutup Selat Hormuz, demi menunjukkan kekuatan sekaligus memaksa dunia menghadapi dampaknya secara langsung.
Langkah nekat tersebut semakin masuk akal di mata elite politik Iran, yang menilai bahwa segala bentuk kompromi dengan Barat tidak pernah dihargai. Sejak awal, Iran merasa selalu dikhianati oleh AS dalam berbagai kesepakatan, termasuk dalam upaya mencabut sanksi internasional dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.
Sentimen ini diperkuat oleh apa yang mereka anggap sebagai standar ganda Barat, khususnya AS, dalam menyikapi isu Timur Tengah. Meski terus mendesak Iran agar transparan dan mematuhi perjanjian nuklir, Amerika justru tak pernah memberi tekanan serupa terhadap Israel.
Bahkan, Israel kerap melakukan serangan militer di kawasan, termasuk menghancurkan reaktor nuklir Osirak di Irak pada 1981, tanpa konsekuensi internasional berarti.
Lebih ironis lagi, Israel hingga kini belum menandatangani Pakta Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang justru sudah ditandatangani Iran bersama 188 negara lainnya. Israel pun tidak membuka akses terhadap fasilitas nuklirnya kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA), berbeda dengan Iran yang selama ini tunduk pada pengawasan.
BACA JUGA:Gara-Gara Konflik Iran-Israel, Ekspor & Bahan Pokok Bisa Kacau! Simak Penjelasannya
Sejumlah tokoh dunia, termasuk mantan Presiden dan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, telah menyerukan keadilan internasional bahwa bukan hanya Iran yang harus dilucuti, tetapi Israel juga.
Ketimpangan ini, ditambah dengan kebijakan agresif AS, semakin memperburuk citra negara adidaya itu di mata dunia, yang mulai melihat kebijakan luar negeri AS sebagai penuh dengan hipokrisi.
Kini, di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden Donald Trump dinilai telah menyalakan kembali siklus perang yang selama ini dia janjikan akan dihentikan dalam tiga kali kampanye pemilunya.
Bukannya membawa perdamaian, Trump justru memicu krisis baru yang bisa menyeret kawasan Timur Tengah, bahkan dunia, ke dalam jurang kesengsaraan global.
Kemungkinan solusi diplomatik pun kian menipis. Dan meski harapan akan jalan damai belum sepenuhnya padam, dunia kini berdiri di tepi jurang konflik yang bisa meledak kapan saja—dan dampaknya akan jauh melampaui batas-batas geografi Timur Tengah. (Antara)