Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Perjudian Berbahaya Donald Trump di Iran, Dunia di Ambang Perang

Ilustrasi: Pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat--(ANTARA/Anadolu/py)

Bahkan, ancaman pemakzulan sudah mulai mengemuka tak lama setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Salah satu suara paling vokal datang dari legislator progresif Alexandria Ocasio-Cortez. Sejalan dengan kritik dari Senator Bernie Sanders, Ocasio-Cortez menilai bahwa Trump telah bertindak inkonstitusional karena melancarkan serangan militer tanpa mendapat otorisasi resmi dari Kongres.

Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Dasar AS dan melewati batas wewenang yang telah ditetapkan untuk lembaga eksekutif dalam hal deklarasi perang.

Situasi ini bukan hanya mengancam tatanan demokrasi Amerika, tetapi juga dapat menyeret kembali negara itu ke dalam siklus perang yang justru sebelumnya berusaha dihindari oleh Trump sendiri dalam retorika politiknya.

BACA JUGA:Konflik Iran-Israel Memanas! Pemerintah RI Siap Hadapi Dampaknya

Sementara itu, kekhawatiran atas eskalasi konflik semakin membesar di kalangan publik dan pengamat. Banyak yang meyakini bahwa tindakan militer AS justru bisa memicu reaksi balasan yang lebih nekat dari pihak Iran, sehingga memperparah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memperluas dampaknya secara global.

Situasi di Timur Tengah kian memanas. Ancaman yang muncul bukan hanya terbatas pada konflik antara Iran dan Israel, tetapi juga berpotensi melibatkan kepentingan Amerika Serikat secara langsung.

Iran kini diperkirakan tidak hanya akan menyerang target-target di Israel, tetapi juga bisa mengincar kepentingan strategis AS di kawasan, termasuk puluhan pangkalan militer yang tersebar di Arab Saudi, Oman, Irak, Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.

Sikap Iran juga semakin mengeras. Menteri Luar Negeri, perwakilan tetap Iran di PBB, hingga jajaran pimpinan militer negara itu secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan tunduk pada jalur diplomasi yang disertai tekanan militer atau ancaman kekerasan.

Jika Iran memutuskan untuk menyerang fasilitas-fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, dampaknya bisa sangat fatal. Aksi semacam itu akan mengharuskan Iran melintasi atau bahkan memasuki wilayah udara dan darat negara-negara Arab tempat pangkalan militer AS berada. Hal ini berisiko memperluas eskalasi konflik menjadi perang regional, yang melibatkan lebih banyak aktor negara di Timur Tengah.

Saat ini saja, serangan rudal Iran ke wilayah Israel sudah dilakukan dengan menempuh rute udara yang melintasi Irak, Suriah, dan Lebanon. Iran secara sengaja menghindari jalur penerbangan di atas negara-negara Teluk dan Yordania, yang selain menolak dijadikan medan perang antara Iran dan Israel, juga memiliki kerja sama keamanan yang erat dengan Amerika Serikat.

Ketegangan yang meningkat ini menambah kekhawatiran bahwa kawasan bisa terseret ke dalam konflik berskala luas, yang tidak hanya membahayakan stabilitas regional, tetapi juga berisiko menyeret dunia ke dalam krisis geopolitik baru.

BACA JUGA:Program Unggulan Prabowo Bisa Terdampak Akibat Konflik Iran-Israel

Potensi Perang Meluas dan Nekat

Ancaman terbesar dari eskalasi konflik Iran–AS–Israel bukan hanya pada perang konvensional, tetapi pada perluasan tafsir mengenai apa yang dianggap sebagai target sah dalam perang modern. 

Jika definisi perang diperluas hingga mencakup seluruh simbol dan kepentingan nasional, maka fasilitas sipil dan kegiatan ekonomi, termasuk perdagangan minyak global, dapat dianggap sebagai sasaran yang sah untuk diserang.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan