Penambang Timah Belitung Tewas Diterkam Buaya, Dievakuasi Dini Hari di Cerucuk
Tim Damkar BPBD Belitung bersama sejumlah instansi saat mengevakuasi korban yang meninggal dunia diterkam buaya Cerucuk-Istimewa-
Riko Pribadi, pengamat buaya di Belitung, meminta para penambang timah ilegal segera meninggalkan kawasan Perairan Sungai Pilang, Desa Dukong, Kecamatan Tanjungpandan.
Ia menegaskan, wilayah tersebut masih menjadi habitat alami buaya muara yang dikenal agresif dan sangat teritorial.
BACA JUGA:Buaya Kembali Teror Nelayan, Pemdes Tanjung Rusa Pasang Spanduk Himbauan
Menurut Riko, aktivitas tambang ilegal bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem satwa liar.
Getaran mesin ponton, kebisingan alat berat, serta perubahan warna air akibat lumpur timah membuat buaya merasa terusik.
Kondisi tersebut dapat memicu perilaku agresif hewan buasa dan meningkatkan risiko serangan terhadap manusia.
“Sungai Pilang itu memang habitat buaya. Jika mereka lapar dan merasa terganggu, maka mereka akan menyerang apa pun di sekitarnya, terutama penambang,” kata Riko kepada Belitong Ekspres, 2025 lalu.
Anggota Damkar BPBD tersebut juga mengingatkan bahwa kasus buaya memangsa manusia bukan fenomena baru di Kabupaten Belitung.
BACA JUGA:Peringatan Nyata Buaya Sungai Cerucuk: Penambang Timah Belitung Diminta Segera Menyingkir
Sebelumnya, peristiwa serupa juga pernah terjadi di kawasan Cerucuk, saat seekor buaya menyerang penambang hingga tewas.
Menurut Riko, peringatan tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak agar tragedi tidak terus berulang.
Ia menilai, selama aktivitas tambang ilegal masih berlangsung di wilayah habitat buaya, potensi konflik akan selalu ada.
“Buaya adalah hewan teritorial. Jika merasa wilayahnya diganggu, mereka pasti menyerang,” tandasnya. (kin/tim)