Penambang Timah Belitung Tewas Diterkam Buaya, Dievakuasi Dini Hari di Cerucuk
Tim Damkar BPBD Belitung bersama sejumlah instansi saat mengevakuasi korban yang meninggal dunia diterkam buaya Cerucuk-Istimewa-
Sementara itu, Kepala Desa Cerucuk, Kusmadi, hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resmi. Nomor telepon yang bersangkutan telah dihubungi, namun belum mendapat respon.
Jejak Teror di Desa Cerucuk
Insiden yang menimpa Rusmanto menambah daftar panjang konflik manusia dan satwa liar di wilayah administrasi Desa Cerucuk, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.
BACA JUGA:Dikira Maling, Pengedar Sabu di Tanjungpandan Nyaris Diamuk Massa
Wilayah ini kian dikenal sebagai “zona merah” bagi aktivitas pertambangan rakyat yang bersinggungan langsung dengan perairan kolong eks tambang dan aliran sungai.
Selain berisiko tinggi, kawasan tersebut juga menjadi peringatan keras bagi penambang timah agar lebih waspada terhadap ancaman predator.
Sebelumnya, kejadian serupa juga pernah terjadi di kawasan desa yang sama, meski di lokasi berbeda.
Pada 20 Januari 2025, seorang penambang timah bernama Atak (38) tewas diterkam buaya di aliran Sungai Cerucuk.
Warga Desa Air Merbau, Tanjungpandan itu diserang buaya sepanjang sekitar empat meter saat hendak menuju ponton tempatnya bekerja pada pagi hari.
Peristiwa di sungai pada 2025 dan insiden tambang pada 2026 menunjukkan sebaran ancaman buaya yang semakin meluas di kawasan tersebut.
BACA JUGA:Penambang Diterkam Buaya Kolong Cerucuk, Mandi Sore Berujung Maut
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa habitat predator air tawar di wilayah Cerucuk mulai terganggu oleh aktivitas manusia.
Pengamat Buaya Sudah Peringatkan Penambang
Kekhawatiran terhadap potensi serangan buaya terhadap penambang timah sebelumnya juga datang dari kalangan pemerhati satwa liar di Kabupaten Belitung.
Meski tidak secara langsung di Desa Cerucuk, peringatan tersebut menyoroti kawasan perairan lain yang juga rawan konflik manusia dan buaya.