Prediksi BMKG Hingga 12 Maret 2026: Babel Waspada Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang
Ilustrasi Prediksi BMKG Hingga 12 Maret 2026: Babel Waspada Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang--(Antara)
PANGKALPINANG, BELITONGEKSPRES.COM – BMKG mengingatkan masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) untuk mewaspadai potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang hingga 12 Maret 2026. Kondisi ini dipicu dinamika atmosfer yang sedang aktif di kawasan Indonesia.
Peringatan cuaca ekstreme tersebut tercantum dalam laporan prakiraan cuaca mingguan BMKG untuk periode 6–12 Maret 2026.
Selain Bangka Belitung, sejumlah provinsi lain juga berada dalam status kewaspadaan serupa, seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
BMKG mencatat dalam beberapa hari terakhir hujan dengan intensitas lebat terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
BACA JUGA:Polda Babel Turun Tangan Usut Dugaan Pengeroyokan 3 Wartawan Saat Liputan
BACA JUGA:3 Jurnalis Alami Kekerasan Fisik Saat Meliput di Gudang PT PMM Bangka
Curah hujan yang cukup tinggi terpantau antara lain di Nusa Tenggara Timur sebesar 63,2 mm per hari, Jawa Tengah 77,2 mm per hari, Jawa Timur 72,5 mm per hari, Jawa Barat 53,1 mm per hari, Sumatra Barat 67,5 mm per hari, serta Jambi 57,5 mm per hari.
Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang juga masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia dengan jumlah curah hujan yang bervariasi.
Prakirawan BMKG Hasalika Nurjana menjelaskan, meningkatnya intensitas hujan dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer.
Salah satunya keberadaan tiga bibit siklon tropis yang saat ini terpantau di wilayah selatan Indonesia. Ketiga bibit siklon tersebut masing-masing diberi kode 90S, 93S, dan 92P.
BACA JUGA:Ketua DPRD Babel Minta Masyarakat Tak Panik Sikapi Isu Kelangkaan BBM
BACA JUGA:Sempat DPO Kasus Korupsi, Eks Kepala DLHK Babel Akhirnya Dieksekusi
Bibit siklon tropis 90S diprakirakan berada di Samudra Hindia barat daya selatan Jawa Timur dan bergerak ke arah timur. Sistem ini diperkirakan akan melemah dalam 48 hingga 72 jam ke depan.
Meski demikian, sistem tersebut masih berpotensi memicu terbentuknya aliran angin kencang lapisan bawah atau low level jet di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga selatan Nusa Tenggara Barat.