OJK Dorong Bank Turunkan Bunga Kredit Setelah BI Rate Turun 5 Persen
Ilustrasi OJK--antara
BELITONGEKSPRES.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengimbau perbankan agar secara bertahap menurunkan suku bunga kredit, menyesuaikan kondisi pasar, menjaga rasio keuangan, serta menciptakan persaingan bunga yang sehat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan hasil revisi Rencana Bisnis Bank Umum (RBB) semester I 2025 menunjukkan target yang lebih konservatif akibat dinamika global dan perubahan makroekonomi. Meski begitu, kinerja perbankan tahun ini tetap stabil dengan pertumbuhan kredit yang lebih hati-hati.
Menurutnya, penyaluran kredit lebih selektif pada segmen berisiko tinggi, tetapi tetap ekspansif di sektor yang mendukung perekonomian dan memiliki prospek cerah.
Data per Juli 2025 menunjukkan kredit perbankan tumbuh 7,03 persen secara tahunan (YoY), dengan kualitas aset terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) stabil di 2,28 persen, sementara loan at risk (LaR) turun ke 9,68 persen.
BACA JUGA:Ekspor Indonesia Diproyeksi Tumbuh Positif Meski Ditekan Perluasan Tarif AS
BACA JUGA:Pemula Wajib Tahu! Alasan Investasi Emas Jadi Pilihan Paling Aman dan Kapan untuk Memulainya
Pertumbuhan juga terlihat pada kredit investasi yang naik 12,42 persen YoY, didorong sektor ekspor pertambangan, perkebunan, transportasi, industri, dan jasa sosial.
Likuiditas perbankan turut menguat berkat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7 persen YoY, ditopang peningkatan dana korporasi, strategi dana murah, serta penempatan dana pemerintah pusat di bank daerah pada triwulan III 2025.
OJK menegaskan ekspektasi kinerja perbankan tetap optimistis di kuartal III 2025, dengan dorongan penyaluran kredit dan pertumbuhan DPK yang memperkuat laba serta modal bank. Optimisme itu sejalan dengan perbaikan ekonomi domestik dan strategi bank memperluas kredit sesuai target RBB.
Dian juga menyoroti dampak penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 5 persen pada Agustus 2025, yang berpotensi menurunkan biaya kredit dan meningkatkan permintaan debitur. Namun, ia menegaskan kecepatan penurunan bunga kredit tergantung struktur biaya dana tiap bank.
“Sebagian bank masih mengandalkan dana mahal dari deposito berjangka. Karena itu, strategi pendanaan perlu diarahkan pada peningkatan dana murah agar ruang penurunan bunga kredit bisa lebih signifikan,” kata Dian. (jpc)