Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Kemenag Belitung Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan Umat Beragama di Era Digital

Foto bersama peserta Dialog Kerukunan Lintas Agama Belitung 2025 foto bersama di Tanjungpandan, Sabtu (28/6/2025)--(ANTARA/Apriliansyah

TANJUNGPANDAN, BELITONGEKSPRES.COM – Maraknya arus informasi dan dinamika media sosial di era digital menjadi tantangan baru bagi masyarakat dalam menjaga harmoni keberagaman.

Menanggapi hal ini, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Belitung mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama merawat kerukunan antarumat beragama agar tetap terjaga di tengah derasnya pengaruh teknologi digital.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Kantor Kemenag Belitung, H. Suyanto, saat membuka kegiatan Dialog Kerukunan Lintas Agama 2025 yang digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Belitung, Sabtu (28/6/2025).

“Kami mengajak umat beragama untuk bersama-sama merawat kerukunan antarumat beragama di era digital sekarang ini,” ujar Suyanto seperti dilansir dari Antara.

BACA JUGA:Kasus Dugaan Pencabulan Anak di Belitung, Pemilik Rumah Makan Padang Diringkus Polisi

Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan dampak besar terhadap kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat.

Di satu sisi, kemajuan ini membuka akses informasi dan komunikasi secara luas. Namun di sisi lain, muncul ancaman baru berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial yang berpotensi merusak kerukunan antar kelompok.

“Dalam konteks ini, menjaga kerukunan menjadi sangat penting agar masyarakat tetap harmonis dan damai,” jelas Suyanto.

Suyanto menjelaskan sejumlah tantangan konkret dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di era digital.

Salah satunya adalah penyebaran informasi palsu dan provokatif di media sosial yang sangat mudah tersebar dan dapat memicu konflik antar kelompok masyarakat.

BACA JUGA:Samsat Belitung Bakal Hadir di Belitung Expo 2025

“Kemudian, polarisasi di media sosial cenderung memperkuat ruang gema (echo chamber), di mana pengguna hanya terpapar pandangan yang sejalan dengan dirinya sendiri,” lanjutnya.

Selain itu, ia menyoroti maraknya anonimitas dan rendahnya etika digital. Identitas yang disamarkan dalam dunia maya seringkali membuat seseorang merasa bebas menyebar kebencian tanpa rasa tanggung jawab.

Untuk merespons tantangan tersebut, Suyanto menekankan pentingnya meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat. Literasi ini meliputi kemampuan menyaring informasi, memahami konteks, serta menjaga etika dalam bermedia sosial.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan