Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Antara Akal dan Algoritma Mendidik Manusia Bersama Mesin

Mangifera Indica Juarsyah--(Dok: Pribadi)

BELITONGEKSPRES.COM - Di tengah pusaran revolusi kecerdasan buatan, pendidikan berada pada titik kritis antara harapan dan kecemasan. Kita menyaksikan bagaimana algoritma tidak hanya mengubah lanskap teknologi, tetapi juga menembus ruang-ruang kelas, mengambil sebagian peran guru, bahkan mempengaruhi cara manusia berpikir dan belajar. 

“Antara Akal dan Algoritma Mendidik Manusia Bersama Mesin” bukan hanya provokatif, melainkan membuka perenungan mendalam tentang posisi manusia sebagai subjek pendidikan di era mesin cerdas. 

Sebagaimana dikemukakan Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum. dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya, persoalan fundamental yang perlu diajukan bukanlah sekadar "apakah mesin bisa mengajar", tetapi apa yang dimaksud dengan mendidik, dan siapa yang benar-benar mampu mendidik.

Pidato tersebut dengan sangat tajam mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah sekadar transmisi pengetahuan, tetapi juga penyemaian nilai dan harapan. Sementara mesin mampu mengolah dan menyajikan data dengan presisi tinggi, ia tetap tumpul dalam menghadirkan nilai-nilai etis dan harapan masa depan. 

Mesin tidak memiliki intensionalitas, tidak mampu mengalami “bagaimana rasanya menjadi manusia”, apalagi memediasi kehangatan, kasih sayang, atau empati. Dalam epistemologi klasik, pengetahuan mengandaikan tiga hal yakni sebuah keyakinan, kebenaran, dan justifikasi. Namun, mesin hanya mampu menawarkan kebenaran yang bersifat proposisional, bukan keyakinan yang lahir dari pengalaman eksistensial.

BACA JUGA:AI: Praktek dan RUU Penyiaran

Dengan mengangkat kisah fiksi film Her dan episode Be Right Back dari Black Mirror, pidato ini menggugah kesadaran kita bahwa masa depan pendidikan bisa mengarah pada relasi semu antara manusia dan mesin yang tampak intim, namun kehilangan dimensi ontologis manusiawi. 

Ketika seorang murid merasa lebih nyaman berdiskusi dengan algoritma dibandingkan dengan gurunya sendiri, maka di sanalah pendidikan kehilangan jiwanya dan pendidikan kehilangan wajahnya.

Namun, Prof. Siti Murtiningsih, M.Hum. tidak terjebak dalam dikotomi "mesin atau manusia". Ia justru menawarkan jalan ketiga yakni mendidik manusia bersama mesin. Di sinilah letak kekuatan judul “Antara Akal dan Algoritma”. Akal, dalam pengertian filosofis, bukan hanya kemampuan logis-kognitif, tetapi daya reflektif yang menyadari dirinya, menyentuh nilai, dan membuka masa depan. 

Algoritma, di sisi lain, adalah representasi dari struktur pemrosesan data yang presisi namun tetap mekanistik. Ketika keduanya dikolaborasikan, maka pendidikan akan menemukan peluang baru untuk mempersonalisasi pembelajaran, mendemokratisasi akses, dan mengaktifkan pengalaman belajar yang adaptif.

Tetapi penggabungan ini tidak boleh membutakan kita pada bahaya reduksionisme teknologis. Di sinilah pentingnya merujuk pada pemikiran Paulo Freire, tokoh pedagogi kritis yang menjadi landasan utama dalam pidato Prof. Siti. Freire mengkritik model pendidikan gaya bank, di mana peserta didik diperlakukan layaknya celengan kosong yang hanya perlu diisi informasi. 

Sayangnya, inilah jebakan yang bisa kembali hadir dalam pendidikan berbasis kecerdasan buatan. Mesin, dengan segala kehebatannya, berpotensi menempatkan murid dalam posisi pasif, hanya sebagai penerima input informasi, tanpa ruang untuk menggugat, merefleksi, dan mentransformasi realitasnya.

Freire menyerukan pendidikan sebagai praksis tindakan yang reflektif dan transformasional. Pendidikan adalah alat pembebasan, bukan sekadar penyampaian konten. 

Karenanya, peran manusia sebagai pendidik tetap vital, bukan sekadar pengirim materi, tapi sebagai fasilitator harapan, kesadaran kritis, dan solidaritas sosial. Mesin mungkin dapat memberikan jawaban dengan cepat, tetapi hanya manusia yang bisa membangkitkan harapan untuk yang belum ada. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan