Harga Minyak Mentah Naik Tajam Usai AS Serang Iran, Brent Tembus USD 77,73 Per Barel
Ilustrasi kilang minyak-Istimewa-Jawapos
BELITONGEKSPRES.COM - Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam setelah Amerika Serikat resmi membantu Israel menyerang fasilitas nuklir Iran. Serangan ini memicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan memunculkan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah jenis Brent naik 72 sen atau 0,93 persen menjadi USD 77,73 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 71 sen atau 0,96 persen ke level USD 74,55 per barel.
Eskalasi Konflik Picu Lonjakan Harga Minyak
Kenaikan harga ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menghancurkan fasilitas nuklir utama Iran dalam serangan udara akhir pekan lalu. Dengan aksi ini, AS secara terbuka bergabung dalam konflik bersenjata antara Israel dan Iran, yang makin memperburuk ketegangan regional.
BACA JUGA:Homuz Terancam Ditutup: Pertamina Alihkan Rute Pelayaran Minyak, Oman dan India jadi Alternatif
BACA JUGA:Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD 100 per Barel
Sebagai produsen minyak terbesar ketiga dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), konflik yang melibatkan Iran secara langsung berpengaruh terhadap persepsi risiko pasar energi global. Kekhawatiran akan gangguan pasokan dari kawasan Teluk menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasokan Energi Global
Pasar kini tengah mencermati kemungkinan Iran akan menutup Selat Hormuz sebagai langkah balasan. Jalur strategis ini merupakan titik vital bagi logistik energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global melintasi selat tersebut setiap harinya.
Jika jalur ini terganggu, pasar minyak global dipastikan akan mengalami tekanan hebat, karena suplai dari negara-negara Teluk akan sulit tersalurkan.
Potensi Brent Tembus USD 100–120 per Barel
Sugandha Sachdeva, pendiri firma riset SS WealthStreet, memperkirakan bahwa eskalasi geopolitik saat ini menjadi katalis utama bagi kenaikan harga minyak Brent. Ia menilai, dalam kondisi yang terus memanas, Brent bisa bergerak naik menuju USD 100 hingga USD 120 per barel.
BACA JUGA:Perjudian Berbahaya Donald Trump di Iran, Dunia di Ambang Perang
BACA JUGA:Iran Ancam Serang Negara yang Pasok Senjata ke Israel, Tegaskan Siap Lawan Koalisi Militer
“Geopolitik saat ini memberikan katalis fundamental bagi harga Brent untuk melonjak lebih tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Goldman Sachs dalam laporan terbarunya juga memperkirakan Brent berpotensi mencapai puncak di USD 110 per barel, tergantung pada bagaimana perkembangan konflik dalam beberapa minggu ke depan.
Minyak Sudah Naik Dua Digit Sejak Awal Konflik
Sejak awal konflik pada 13 Juni 2025, harga minyak telah mencatat kenaikan signifikan. Brent naik sekitar 13 persen, sedangkan WTI menguat hampir 10 persen. Ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap ketegangan di kawasan yang memiliki peran sentral dalam pasokan energi dunia.