Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Tragedi Tarif Trump dan Tekad Perlawanan China

Ilustrasi- Perang dagang AS dan China-Shutterstock/pri-ANTARA

Pernah mendengar kisah tentang "Anak Penggembala yang Berteriak Serigala"?

Aesop, seorang pendongeng pada zaman Yunani Kuno, telah menuturkan cerita mengenai seorang anak penggembala yang sedang menggembalakan domba. Namun, karena anak tersebut kerap melakukan rutinitas penggembalaan itu setiap hari dan merasa bosan, dia memutuskan untuk berbuat sesuatu guna menarik perhatian warga desa.

Tindakan yang dilakukan sang penggembala muda itu adalah berteriak bahwa ada serigala yang menyerang kawanan dombanya, padahal kondisi sebenarnya sama sekali tidak ada serigala.

Sontak saja, para penduduk desa segera bergegas pergi keluar untuk menolong anak penggembala itu, tetapi mereka kemudian tidak menemukan apa-apa, hanya anak penggembala yang merasa puas dan tertawa dalam hati karena berhasil menipu para penduduk desa.

BACA JUGA:Pariwisata Bukan Lagi Pelengkap: Revisi UU Kepariwisataan Kunci Bangkitkan Ekonomi Daerah

Melihat aksinya yang berhasil tersebut, ternyata anak penggembala itu (kemungkinan untuk memuaskan egonya) kembali mengulang-ulang perbuatannya dengan berteriak serigala, dan lagi-lagi para penduduk desa tertipu oleh teriakan tersebut.

Dampak dari berkali-kali ditipu, oleh anak penggembala, para penduduk desa bertekad untuk tidak lagi percaya kepada teriakan sang penggembala. Hingga suatu hari, ternyata ada seekor serigala yang benar-benar muncul.

Dengan ketakutan, sang anak penggembala berteriak-teriak "ada serigala" dengan harapan para penduduk desa akan menolongnya. Namun, tidak ada satu pun yang menolongnya sehingga seluruh dombanya dimakan serigala itu.

Hikmah dari kisah itu bahwa tindakan kerap berbohong akan ada konsekuensinya, yaitu tidak akan lagi ada yang percaya terhadap ucapan seorang pembohong akut.

Bahaya tidak konsisten

Selain itu, sebenarnya ada satu sifat lagi yang sebenarnya dapat ditarik sebagai hikmah dari kesialan yang diterima oleh anak penggembala itu, yaitu peringatan tentang bahaya perilaku yang tidak konsisten.

BACA JUGA:Peluang Bertahan Indonesia di Era Perang Dagang AS-China

Inkonsistensi dari anak penggembala itu ditunjukkan dengan berkali-kali mengatakan bahwa "ada serigala", padahal faktanya "tidak ada serigala", sehingga menimbulkan kebingungan dan ketidakpercayaan yang membuat para penduduk desa seiring waktu mengabaikan kata-katanya yang tidak konsisten.

Dalam kehidupan nyata, ketidakkonsistenan semacam itu -baik dalam komunikasi, janji, tindakan, atau emosi- dapat membuat orang waspada, bahkan jika niat Anda baik. Ini seperti membangun reputasi di atas tanah yang goyah; pada akhirnya, reputasi itu tidak akan bertahan.

Pada kondisi global seperti saat ini, tema inkonsistensi itu juga dapat ditemukan dalam kebijakan tarif yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump. Situs berita seperti MSNBC bahkan telah merangkum lini masa dalam ketidakkonsistenan dalam kebijakan tarif tersebut.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan