Membaca Biodiversitas Nusantara Sebelum Benar-Benar Hilang
Ilustrasi: Para pegiat di Taman Biodiversitas Indonesia di Lembah Bukit Manjai, Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar--(ANTARA/Ferry)
Pada saat yang sama, pengetahuan ekologis masyarakat adat perlu diintegrasikan secara lebih sistematis ke dalam dokumentasi biodiversitas nasional. Banyak komunitas lokal telah mengenali pola kehidupan dan perubahan lanskap jauh sebelum ilmu modern menuliskannya dalam nomenklatur ilmiah.
Mengabaikan pengetahuan itu bukan hanya menyia nyiakan sumber informasi yang kaya, tetapi juga mempersempit cara bangsa ini mengenali ekologinya sendiri.
Pada akhirnya, membaca Nusantara bukan sekadar memberi nama pada makhluk hidup. Ia adalah cara paling mendasar sebuah bangsa memahami dirinya sendiri.
Peradaban tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun di atas tanahnya, tetapi juga dari seberapa utuh ia mengenali kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Indonesia patut mencatat capaian ini sebagai langkah penting. Namun, capaian tidak boleh melahirkan rasa cukup. Sebab pekerjaan terbesarnya justru baru dimulai.
Kehilangan ekologis sering kali tidak segera tercermin dalam laporan investasi atau statistik pertumbuhan. Ia bergerak perlahan, nyaris tak terlihat, sampai dampaknya muncul sebagai krisis yang jauh lebih mahal untuk dipulihkan.
Di situlah kerentanannya tersembunyi. Pertumbuhan ekonomi yang dibangun tanpa pengetahuan ekologis yang memadai pada akhirnya hanya melahirkan kemajuan yang tampak kokoh di permukaan, tetapi rapuh di fondasinya.
Ekonomi yang sungguh berkelanjutan tidak pernah bertumpu semata pada percepatan industrialisasi atau derasnya arus modal. Ia berdiri di atas kemampuan menjaga daya dukung kehidupan yang memungkinkan pertumbuhan berlangsung lintas generasi.
Ketika biodiversitas diabaikan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan spesies, melainkan juga ketahanan pangan, stabilitas iklim lokal, sumber inovasi kesehatan, dan kapasitas ekologis yang menopang produktivitas masa depan.
Di titik itulah, memahami kekayaan ekologinya menjadi syarat dasar pembangunan berkelanjutan. Jika Indonesia ingin tumbuh bukan hanya cepat, tetapi juga bertahan lama, maka mengenali kekayaan hayatinya bukanlah agenda pelengkap di pinggir pembangunan.
Ia adalah fondasi yang menentukan apakah pertumbuhan memiliki daya tahan atau sekadar ilusi kemajuan jangka pendek.
Tanpa fondasi pengetahuan ekologis yang memadai, angka ekonomi mungkin terus bergerak naik, tetapi diam-diam sedang menggerus sistem kehidupan yang menopang keberlanjutan pertumbuhan itu sendiri.
Pada titik itu, pembangunan tidak lagi memperluas masa depan, melainkan mengonsumsi syarat-syarat yang membuat masa depan tetap mungkin.
Ketika kesadaran itu datang terlambat, yang hilang mungkin bukan sekadar satu spesies tanpa nama, melainkan kesempatan sebuah bangsa membangun kemakmuran yang bertahan lama karena ia gagal terlebih dahulu mengenali kehidupan yang menopangnya. (Antara)