Membaca Biodiversitas Nusantara Sebelum Benar-Benar Hilang
Ilustrasi: Para pegiat di Taman Biodiversitas Indonesia di Lembah Bukit Manjai, Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar--(ANTARA/Ferry)
Ia mengubah bentang alam dengan asumsi bahwa apa yang belum diketahui belum cukup penting untuk diperhitungkan. Padahal, justru di ruang-ruang yang belum terbaca itulah risiko terbesar sering tersembunyi.
Ironisnya, semakin banyak spesies baru ditemukan, semakin jelas bahwa pengetahuan Indonesia tentang kekayaan ekologinya sendiri masih jauh dari lengkap.
Jika pada kelompok organisme yang relatif dekat dengan aktivitas manusia saja temuan baru terus bermunculan, maka pada wilayah yang lebih terpencil skala ketidaktahuan itu hampir pasti jauh lebih besar.
Kalimantan, Papua, bentang Wallacea, kawasan karst Sumatera, hingga berbagai ekosistem laut dalam masih menyimpan kemungkinan biologis yang belum selesai dipetakan.
Ini bukan sekadar ruang kosong dalam peta riset. Di sanalah kebijakan kerap bergerak tanpa peta yang cukup utuh. Persoalan menjadi semakin krusial karena ilmu pengetahuan dan pembangunan bergerak dalam ritme yang berbeda.
Penelitian biodiversitas membutuhkan observasi panjang, analisis genetika, verifikasi morfologi, dan pengakuan ilmiah yang ketat. Sebaliknya, perubahan bentang alam berlangsung dalam ritme investasi yang jauh lebih cepat.
Ketika keduanya tidak bergerak dalam kecepatan yang seimbang, pengetahuan kerap tertinggal dari laju perubahan dan kehilangan kesempatan menjadi dasar koreksi kebijakan.
Di sinilah ancaman paling sunyi muncul. Kehidupan dapat hilang bahkan sebelum sempat dikenali. Suatu spesies dapat lenyap tanpa pernah tercatat secara ilmiah.
Dalam praktiknya, ini adalah kehilangan pengetahuan, ketika kemungkinan untuk mengenali suatu bentuk kehidupan lenyap bahkan sebelum sempat dicatat dan dipahami.
Bagi negara megabiodiversitas seperti Indonesia, kehilangan semacam ini adalah kegagalan yang mendasar. Ia menandai keterlambatan bangsa dalam memahami syarat ekologis yang menopang keberlanjutannya sendiri.
Tantangan berikutnya terletak pada regenerasi keilmuan. Indonesia masih membutuhkan jauh lebih banyak ahli taksonomi dan peneliti biodiversitas. Mereka bukan sekadar ilmuwan yang memberi nama pada spesies. Mereka adalah para penyusun alfabet kehidupan bangsa ini.
Tanpa mereka, kekayaan hayati hanya akan menjadi angka kebanggaan yang sulit diterjemahkan menjadi kebijakan operasional.
Karena itu, investasi biodiversitas tidak cukup berhenti pada ekspedisi atau publikasi ilmiah. Ia harus naik kelas menjadi fondasi pengetahuan strategis yang diperlakukan setara pentingnya dengan pembangunan fisik.
Digitalisasi koleksi biologis perlu dipercepat. Integrasi data genetika nasional yang kini mulai dibangun harus dituntaskan agar benar-benar menjadi pijakan pengambilan keputusan berbasis bukti.
Langkah menuju ke sana memang telah dimulai, tetapi masih jauh dari selesai. Selama data hayati tetap tersebar dalam fragmen kelembagaan, kemampuan negara memahami perubahan ekologis akan selalu tertinggal.