Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Mengoptimalkan MBG untuk Ibu Hamil dan Anak Usia Dini

Pekerja menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Sehat Kemala Bhayangkari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026). Kementerian Keuangan hingga 9 Maret 2026 telah menggelontorkan anggaran belanja B-ADENG BUSTOMI-ANTARA FOTO

Pagi itu di sebuah sudut Mekarsari, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, langkah-langkah kecil para perempuan yang tergabung dalam kelompok Pendamping Keluarga tampak begitu bermakna.

Mereka yang dikenal sebagai pasukan Ocan atau Ojek Cantik mengambil makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk kemudian didistribusikan kepada ibu hamil dan anak usia dini.

Aktivitas yang terlihat sederhana itu sesungguhnya menggambarkan satu hal penting bahwa negara sedang hadir, hingga ke level paling dasar kehidupan masyarakat, memastikan bahwa generasi masa depan mendapatkan fondasi yang layak sejak awal kehidupan.

Program Makanan Bergizi Gratis atau MBG yang digagas pemerintahan Prabowo-Gibran, bukan sekadar kebijakan bantuan pangan, melainkan strategi besar untuk menjawab persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.

Stunting bukan hanya soal tinggi badan yang tidak optimal, tetapi juga menyangkut perkembangan otak, kesehatan jangka panjang, dan kualitas sumber daya manusia. Ketika stunting terjadi, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi meluas, hingga mempengaruhi daya saing bangsa di masa depan.

BACA JUGA:BGN Pastikan Penggunaan Anggaran MBG Diawasi Berlapis dan Transparan

Pada titik inilah semua perlu jujur bahwa pemberian makanan bergizi saja tidak cukup. Jika Indonesia benar-benar ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, dengan generasi yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter, maka pendekatan yang dilakukan harus jauh lebih komprehensif.

Gizi adalah fondasi, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan tumbuh kembang anak. Tanpa pendidikan gizi, tanpa perubahan pola hidup, tanpa stimulasi yang tepat, bahkan makanan terbaik sekalipun tidak akan menghasilkan dampak optimal.

Salah satu persoalan mendasar yang sering terlewat adalah rendahnya literasi gizi di masyarakat. Banyak keluarga yang sebenarnya mampu menyediakan makanan bergizi, tetapi tidak memahami komposisi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Pola makan sering kali ditentukan oleh rasa kenyang atau sekadar selera, bukan oleh keseimbangan nutrisi. Dalam situasi ini, program MBG harus dipandang sebagai pintu masuk untuk edukasi yang lebih luas, bukan sekadar distribusi makanan.

Edukasi gizi yang sederhana dan praktis perlu diperkuat, mulai dari pentingnya protein, sayur, buah, hingga kecukupan air minum.

BACA JUGA:Purbaya: Pajak Program MBG Tembus 3-5 Persen dari Realisasi Anggaran

Lebih dari itu, masyarakat perlu diperkenalkan pada potensi pangan lokal yang murah, namun bernutrisi tinggi, seperti tempe, telur, ikan, daun kelor, dan kacang-kacangan.

Dengan pendekatan ini, ketahanan gizi tidak bergantung sepenuhnya pada program pemerintah, tetapi tumbuh dari kesadaran masyarakat itu sendiri.

Sedentary lifestyle

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan