Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Ketahanan dan Transisi Energi di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Ilustrasi. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Wayang Windu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dioperasikan oleh Star Energy Geothermal-Star Energy Geothermal-ANTARA

Selaras dengan apa yang disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, di COP 29 (KTT Perubahan Iklim) di Baku, Azerbaijan, tahun lalu.

Dalam forum COP 29 Hashim Djojohadikusumo menyampaikan rencana Presiden Prabowo untuk meningkatkan pemanfaatan EBT, sebagai upaya memperlambat kenaikan suhu global. Adapun salah satu sumber energi baru yang akan dikembangkan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Hashim menambahkan, setidaknya sekitar 5 Giga Watt (GW) PLTN akan dibangun hingga 2040. Hal ini adalah bagian dari skema tambahan 100 GW pembangkit listrik baru hingga 15 tahun mendatang.

Dalam Kebijakan Energi Nasional, PLTN pertama ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2032 dengan kapasitas 250 MW. Melihat skalanya, kapasitas tersebut masuk dalam kategori Small Modular Reactor (Reaktor Modular Kapasitas Kecil).

Berdasarkan pengalaman selama ini di negara lain, PLTN berskala besar [kapasitas 1 GW ke atas] dibangun selama kurun waktu 7-10 tahun. Sedangkan, untuk PLTN pertama, Indonesia akan menggunakan PLTN dengan skala Small Modular Reactor [kapasitas di bawah 300 MW] yang diperkirakan waktu pembangunannya sekitar 5 tahun.

Dari berbagai pertimbangan ada beberapa alasan utama Indonesia perlu membangun PLTN, salah satunya adalah diversifikasi, yaitu perluasan pemanfaatan sumber energi sebanyak dan seluas mungkin.

 

Transisi energi atau dekarbonisasi juga bisa melalui perluasan pemanfaatan jaringan gas. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina terus mendorong pemanfaatan jaringan gas bumi rumah tangga (jargas) di kawasan perumahan sebagai bagian dari upaya menjadikan energi bersih, aman, dan efisien.

Langkah ini sejalan dengan komitmen PGN dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dalam mendorong pemanfaatan gas bumi di sektor perumahan dan real estate, PGN membuka peluang kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah dan pengembang perumahan (developer). Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat integrasi infrastruktur gas bumi sejak tahap perencanaan kawasan hunian.

Pembangunan jargas secara masif merupakan salah satu kontribusi dukungan PGN dalam menahan laju pertumbuhan impor energi pemerintah sehingga dapat memperbaiki Current Account Defisit Migas.

Jargas adalah bentuk konkret dalam menghadirkan energi lebih bersih, aman, dan terjangkau untuk masyarakat. Komitmen ini sejalan dengan misi ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber gas domestik. (antara)

Oleh: Dr Taufan Hunneman

Dosen UCIC, Cirebon.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan