Harta Karun Karbon dari Tanaman Komoditas Unggulan yang Belum Tergarap
Kopi, Harta Karun Karbon dari Tanaman Komoditas Unggulan yang Belum Tergarap--(Antara)
Karbon yang diklaim harus bersifat tambahan (additionality), dapat diukur, diverifikasi, dan dijamin keberlanjutannya. Artinya, tidak semua kebun dapat langsung menghasilkan kredit karbon.
Kendala terbesar terletak pada biaya. Proses pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) membutuhkan investasi yang tidak kecil. Untuk kebun skala kecil, biaya ini sering kali melebihi potensi pendapatan karbon itu sendiri.
Akibatnya, terdapat risiko eksklusi struktural, petani kecil, yang justru mengelola sebagian besar sistem agroforestri, tidak memiliki akses ke pasar karbon. Tanpa intervensi kebijakan, nilai ekonomi karbon berpotensi terkonsentrasi pada pelaku usaha besar.
Menata Arah Kebijakan
Dalam konteks ini, peran negara menjadi krusial. Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan melalui Peraturan Presiden No 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, serta komitmen menuju FOLU Net Sink 2030. Namun, tantangan utama terletak pada implementasi di tingkat tapak.
Pertama, diperlukan pendekatan berbasis lanskap yang mengakui keberagaman sistem perkebunan.
Kebijakan tidak dapat diseragamkan untuk semua komoditas. Agroforestri kopi, kakao, kelapa, atau rempah memiliki karakteristik yang berbeda dan memerlukan metodologi pengukuran yang spesifik.
Kemudian, penguatan kelembagaan petani menjadi prasyarat utama. Skema karbon tidak akan efektif jika dikelola secara individual. Diperlukan mekanisme agregasi melalui koperasi, kelompok tani, atau platform digital yang memungkinkan pengelolaan karbon dalam skala ekonomi.
Selanjutnya, penyederhanaan sistem MRV harus menjadi prioritas. Penggunaan faktor emisi standar, pendekatan berbasis citra satelit, serta integrasi dengan sistem registrasi nasional dapat menurunkan biaya tanpa mengorbankan kredibilitas. Selanjutnya, mekanisme pembagian manfaat harus dirancang secara transparan dan adil.
BACA JUGA:Menjaga Lumbung Pangan Tetap Produktif di Tengah Ancaman El Nino
Lebih jauh, penting untuk menempatkan karbon dalam konteks yang lebih luas. Karbon bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk mendorong transformasi sistem produksi.
Kebun yang lebih berkarbon tinggi umumnya juga lebih produktif dalam jangka panjang. Tanah yang kaya bahan organik memiliki kapasitas menyimpan air yang lebih baik.
Keberadaan pohon pelindung meningkatkan mikroklimat dan mengurangi stres tanaman. Keanekaragaman vegetasi berkontribusi pada pengendalian hama secara alami.
Indonesia memiliki modal sosial dan ekologis yang kuat dalam bentuk sistem agroforestri tradisional. Praktik yang kini disebut sebagai “solusi berbasis alam” pada dasarnya telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal petani.
Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan praktik tersebut ke dalam kerangka ekonomi modern tanpa mereduksi kompleksitasnya.