Menjaga Lumbung Pangan Tetap Produktif di Tengah Ancaman El Nino
Petani di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (24/3/2026), menyiapkan gabah yang akan diserap oleh Bulog Banyumas-Bulog Banyumas-Arsip ANTARA
Hujan yang masih turun di pengujung Maret 2026 seakan memberi jeda, sebelum ancaman El Nino yang memicu kemarau panjang benar-benar datang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah.
Di sejumlah wilayah Jawa Tengah bagian selatan, seperti Kabupaten Banyumas dan Cilacap, langit masih sering mendung, tanah masih basah, dan aliran air di saluran irigasi belum surut karena hujan kembali turun dalam beberapa hari terakhir, setelah kondisi cuaca sempat cerah dan terasa panas selama hampir satu pekan.
Bagi para petani dan pemangku kebijakan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa waktu persiapan menghadapi musim kemarau kian terbatas seiring datangnya masa transisi antarmusim atau pancaroba.
Prakiraan akan datangnya kemarau panjang mendorong pemerintah dan petani di Jawa Tengah mempercepat tanam serta mengoptimalkan sumber daya air agar produksi pangan tetap produktif dan aman.
Musim kemarau 2026 diprakirakan lebih panjang dan kering, dipicu fenomena El Nino yang mulai menguat di kawasan Pasifik. El Nino dikenal mampu menekan curah hujan, meningkatkan suhu udara, dan mempersulit pertumbuhan tanaman. Dengan perkiraan durasi yang lebih lama, ancaman bagi ketahanan pangan menjadi nyata.
BACA JUGA:Mentan Amran Pastikan Stok Pangan Aman Hadapi Ancaman Godzilla El Nino
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis proyeksi musim kemarau sebagai panduan bagi pemerintah dan petani.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan awal musim kemarau di wilayah selatan Jawa Tengah umumnya terjadi pada Mei 2026.
Di Kabupaten Cilacap, kemarau diperkirakan mulai pada Mei dasarian kedua, sementara wilayah pesisir tenggara, seperti Kecamatan Binangun dan Nusawungu, kemungkinan memasuki kemarau lebih awal, yakni pada Mei dasarian pertama. Durasi musim kemarau diperkirakan 140–180 hari, dengan puncak pada Agustus 2026.
Kabupaten Banyumas menghadapi awal kemarau secara bertahap. Wilayah tenggara diperkirakan mulai mengalami kemarau pada Mei dasarian pertama, diikuti barat daya dan selatan pada Mei dasarian kedua.
Wilayah utara dan tengah Banyumas baru memasuki kemarau pada Juni dasarian kedua, dengan durasi 110–180 hari.
Sementara Kabupaten Purbalingga, kemarau diprakirakan mulai Juni dasarian pertama di wilayah utara dan meluas ke barat laut serta selatan pada dasarian kedua, durasi sekitar 120 hari.
BACA JUGA:Bulog Pastikan Stok Pangan Aman di Tengah Konflik Timur Tengah dan Ancaman El Nino
"Hal yang perlu menjadi perhatian adalah sifat kemarau tahun ini yang berada di bawah normal, artinya curah hujan lebih rendah dari rata-rata klimatologis," kata Teguh.