Perang AS–Israel dan Iran: Membaca Konflik Global melalui Lensa Sosiologi
Ares Faujian, Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Belitung Timur dan Pengurus Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia-Ist-
Globalisasi Konflik: Dampak Sistem Dunia (Teori Sistem Dunia –Wallerstein)
Pendekatan teori sistem dunia atau world-systems theory melihat konflik global sebagai bagian dari dinamika struktural kapitalisme dunia, yaitu hubungan pusat–semi periferi–periferi, perebutan hegemoni, dan krisis jangka panjang, bukan sekadar pertikaian antar negara.
Sistem dunia modern adalah kapitalis world-economy dengan pembagian kerja internasional: negara pusat (core) menguasai teknologi, finansial, dan keuntungan tertinggi; negara semi periferi dan periferi atau negara bukan inti terserap dalam posisi subordinat/ bawahan (Wallerstein, 2020; 2011). Ketimpangan kaya–miskin dan hierarki global bukan anomali, tetapi hasil normal dari cara kerja kapitalisme dunia (Wallerstein, 2019).
Dalam perspektif ini, konflik antara AS–Israel dan Iran dapat dipahami sebagai manifestasi persaingan dalam struktur sistem dunia, di mana aktor-aktor inti atau pusat (core) berupaya mempertahankan dominasi geopolitik dan kontrol atas kawasan strategis seperti Timur Tengah yang vital bagi energi global.
Eskalasi militer tersebut juga mencerminkan krisis struktural kapitalisme global yang memicu instabilitas sistemik, termasuk gangguan pasar energi dan tekanan ekonomi terhadap negara-negara periferi.
Dampaknya kian meluas, antara lain jalur perdagangan global terganggu terutama di Selat Hormuz, transportasi udara dan logistik internasional terdampak, hingga ekonomi global mengalami tekanan akibat ketidakpastian energi.
Dengan demikian, perang ini bukan sekadar konflik ideologis atau keamanan, melainkan bagian dari dinamika reproduksi ketimpangan dan perebutan hegemoni dalam kapitalisme dunia yang terus berlangsung.
BACA JUGA:Iran Sedang di Atas Angin
Penutup
Perikaian yang terjadi antara AS-Israel dan Iran menunjukkan bahwa perang kontemporer adalah fenomena sosial global yang berakar pada ketimpangan, pembentukan identitas, dan dinamika sistem dunia yang saling terkait daripada hanya konflik militer.
Konflik ini menunjukkan bahwa ini hanyalah salah satu dari krisis sistemik yang lebih besar yang terjadi di dunia saat ini. Ihwal ini mencakup krisis energi yang disebabkan oleh gangguan jalur strategis seperti Selat Hormuz hingga instabilitas ekonomi global.
Membaca fenomena perang melalui perspektif sosiologi menjadi penting untuk mengungkap relasi kuasa dan kepentingan yang tersembunyi di baliknya. Ihwal ini juga sekaligus membuka ruang refleksi kritis bagi upaya perdamaian yang lebih berkelanjutan.
Dalam lanskap global yang kian rapuh ini, perang ibarat api yang tidak hanya membakar medan tempur, tetapi juga menjalar ke sendi-sendi kehidupan sosial dunia. Semoga perang ini cepat berakhir dan kita bisa mengambil pelajaran/ hikmahnya.
*) Ares Faujian, Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Belitung Timur dan Pengurus Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia