Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Perang AS–Israel dan Iran: Membaca Konflik Global melalui Lensa Sosiologi

Ares Faujian, Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Belitung Timur dan Pengurus Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia-Ist-

Marx dan Engels memandang perang internasional sebagai kelanjutan perang kelas, terkait kompetisi kapitalis, ekspansi pasar, dan peran militer dalam akumulasi modal (Coulomb & Bellais, 2008). 

Tradisi Marxis kemudian menekankan bahwa kapitalisme pada tahap imperialisme cenderung “berperang”, dan belanja militer menjadi instrumen penting bagi industri dan profit kapitalis besar (Coulomb & Bellais, 2008; Kakışım, 2021).

Dalam konteks perang AS-Israel melawan Iran pada tahun 2026, eskalasi konflik yang melibatkan ratusan serangan udara dan produksi persenjataan skala besar menunjukkan bahwa konflik berskala besar menimbulkan permintaan berkelanjutan untuk industri pertahanan dan teknologi militer. 

Selain itu, peningkatan anggaran untuk pertahanan dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah perang menunjukkan bahwa konflik bersenjata juga berfungsi sebagai cara untuk mempertahankan akumulasi kapital dalam ekonomi kapitalis yang berkembang.

Identitas dan Musuh Bersama (Teori Konstruksi Sosial – Berger & Luckmann)

Teori konstruksi sosial menjelaskan bagaimana identitas “kita” dan musuh “mereka” bukan sesuatu yang alamiah, tetapi dibentuk lewat proses sosial, komunikasi, dan pengetahuan sehari hari. 

Melalui institusi dan sosialisasi, definisi tentang kelompok, musuh, dan ancaman menjadi tampak “wajar” dan terlupakan asal-usul konstruksinya (reifikasi) (Berger & Luckmann, 1967; Berger et al., 1968). 

BACA JUGA:Ujian Nyata Kemitraan Indonesia dan Jepang

Pengetahuan sehari hari (“common-sense knowledge”) memberi tahu siapa “kita”, siapa “orang lain”, apa yang dianggap normal, dan apa yang berbahaya (Berger & Luckmann, 1967; Rose et al., 1967).

Teori konstruksi sosial juga dapat digunakan untuk memahami konflik AS-Israel dan Iran ini, di mana media, narasi politik, dan institusi negara membentuk realitas "musuh". AS dan Israel menggambarkan Iran sebagai representasi imperialisme dan penindasan, banyak orang menggambarkan Iran sebagai ancaman nuklir oleh Barat. 

Narasi ini bukan sekadar retorika. Ihwal ini melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti meningkatkan dukungan nasional, mendukung kebijakan militer, dan mengontrol pendapat publik.

Dalam konteks perang AS–Israel dan Iran, konstruksi sosial ini terlihat jelas ketika media dan aktor politik membingkai pihak sendiri sebagai pembela (“self-defence”) dan lawan sebagai provokator atau ancaman, sehingga persepsi publik tentang siapa “kita” dan “mereka” terbentuk secara sistematis. 

Narasi yang bersaing, baik dari pemerintah AS, Israel, maupun Iran, secara aktif memproduksi realitas sosial yang berbeda, di mana masing-masing pihak menampilkan dirinya sebagai korban atau pahlawan, sementara pihak lain direduksi menjadi musuh yang berbahaya. 

Bahkan dalam praktiknya, strategi “perang informasi” dan propaganda memperkuat kategorisasi ini dengan melabeli kelompok oposisi sebagai agen asing atau ancaman eksternal, sehingga identitas kolektif dan legitimasi konflik terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Strategi Dua Arah Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan