Saatnya Mengkaji Ulang Program Kompor Listrik, Antisipasi Krisis LPG
Ilustrasi: Saatnya Mengkaji Ulang Program Kompor Listrik, Antisipasi Krisis LPG--(Antara)
Kondisi ini memaksa perubahan pola konsumsi energi masyarakat. Warga yang sebelumnya menggunakan kompor gas kini mulai beralih kembali ke minyak tanah sebagai alternatif.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia?. Negara ini masih bergantung pada impor untuk lebih dari 75 persen kebutuhan LPG nasional.
Kebutuhan LPG Indonesia
Indonesia diproyeksikan membutuhkan LPG hingga 10 juta ton pada 2026, dengan 7,8 juta tonnya dipenuhi lewat impor.
Porsi impor dari kawasan Timur Tengah pun tidak sedikit. Dari keseluruhan LPG yang diimpor, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut 30 persennya berasal dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah telah mencari alternatif impor LPG untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG dari Timur Tengah. Namun, permasalahan yang menyertai ketergantungan terhadap impor LPG tidaklah terbatas kepada pengamanan pasokan.
Kenaikan harga LPG juga membayangi mereka yang masih bergantung pada penggunaan LPG untuk memasak. Membengkaknya subsidi untuk LPG 3 kg juga menjadi persoalan yang mengkhawatirkan.
Harga propana, salah satu komponen utama dalam pembuatan LPG, mengalami peningkatan sekitar 12 persen selama satu bulan terakhir menjadi 0,80 dolar AS per galon.
Meski belum melampaui tingginya harga propana pada Februari 2022 (1,6 dolar AS per galon), lonjakan sebesar 12 persen dalam satu bulan menunjukkan betapa sensitifnya harga gas dunia terhadap situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA:Strategi Dua Arah Hadapi Lonjakan Harga Minyak
Sensitivitas harga gas, utamanya yang merupakan salah satu komponen utama LPG, lantas menimbulkan kerentanan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, mengingat LPG merupakan komoditas yang disubsidi pemerintah.
Subsidi energi yang dianggarkan sebesar Rp210,1 triliun menyerap sekitar 65,87 persen dari total anggaran subsidi APBN 2026 sebesar Rp318,9 triliun. Lonjakan harga komoditas energi akibat konflik di Timur Tengah pun menjadi kabar buruk bagi ketahanan fiskal Indonesia.
Substitusi Kompor Gas jadi Listrik
Narasi untuk mengganti kompor gas menjadi kompor listrik pun kembali mengemuka.
Pada awal Maret 2026, ketika perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran baru dimulai, Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan penggunaan kompor listrik sebagai pengganti kompor berbahan bakar LPG guna mengurangi ketergantungan impor sekaligus menekan beban subsidi energi.