Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Menjaga Lumbung Pangan Tetap Produktif di Tengah Ancaman El Nino

Petani di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (24/3/2026), menyiapkan gabah yang akan diserap oleh Bulog Banyumas-Bulog Banyumas-Arsip ANTARA

Terkait dengan hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap mengambil langkah konkret menjaga produksi pangan, salah satunya melalui percepatan tanam yang menjadi strategi utama.

Kepala Dinas Pertanian Sigit Widayanto mengatakan percepatan tanam dilakukan untuk memanfaatkan sisa curah hujan, sekaligus meminimalkan risiko kekeringan pada fase pertumbuhan tanaman.

Penyuluh pertanian juga mendampingi petani agar pola tanam sesuai kondisi iklim yang lebih kering. Dari sisi air, pemanfaatan embung, dam parit, sumur dalam, hingga pengembangan irigasi perpompaan dan perpipaan terus dioptimalkan, serta pengelolaan jaringan irigasi primer, hingga kuarter, dijaga agar distribusi air tetap efektif.

BACA JUGA:Bapanas Mulai Salurkan Beras SPHP 2026, Target 828 Ribu Ton hingga Akhir Tahun

Sigit memastikan hingga saat ini belum ada informasi mengenai rencana pengeringan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Serayu maupun DI Menganti, sehingga pasokan air pertanian masih dapat terjaga.

Petani juga didorong menggunakan varietas padi tahan kekeringan, seperti Inpari 11, 18, 19, 20, hingga Inpari 46, serta varietas genjah seperti Inpari 6, 12, 13, 34, Cakrabuana, dan Respati.

Dengan luas baku sawah mencapai 67.031 hektare, Cilacap menjadi lumbung pangan strategis Jawa Tengah. Pada 2025, produksi padi mencapai 855.042 ton gabah kering giling, setara 507.438 ton beras konsumsi, dengan surplus cukup besar dibanding kebutuhan masyarakat.

Capaian ini menjadi modal penting menghadapi tantangan kemarau 2026, meskipun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat keterbatasan air.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama masa transisi dari musim hujan menuju kemarau pada periode April–Mei 2026. Hujan lebat singkat, petir, angin kencang, hingga puting beliung bisa terjadi tiba-tiba.

Perubahan musim tidak selalu mulus. Di satu sisi ancaman kekeringan mulai mengintai, sementara di sisi lain potensi bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai.

Menjaga pangan tetap aman di tengah ancaman El Nino bukan sekadar menghadapi keterbatasan air. Ini soal kemampuan beradaptasi, memperkuat koordinasi, dan menjaga keseimbangan antara alam dan kebutuhan manusia.

Di hamparan sawah yang perlahan mengering, harapan tetap tumbuh bersama benih-benih yang ditanam dengan perhitungan matang. Selama upaya terus dilakukan dan kolaborasi tetap terjaga, ketahanan pangan akan tetap berdiri kokoh, bahkan di tengah musim kemarau panjang sekalipun. (antara)

Oleh: Sumarwoto

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan