Menjaga Lumbung Pangan Tetap Produktif di Tengah Ancaman El Nino
Petani di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (24/3/2026), menyiapkan gabah yang akan diserap oleh Bulog Banyumas-Bulog Banyumas-Arsip ANTARA
Prediksi ini berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya karena pada 2025, beberapa wilayah di Jawa Tengah bagian selatan, bahkan mengalami hujan hampir sepanjang tahun, tanpa periode kemarau yang jelas. Akan tetapi tahun ini polanya berbalik, dengan kecenderungan kondisi lebih kering.
Secara global, El Niño-Southern Oscillation (ENSO) atau fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang menyebabkan variasi iklim global secara berkala, namun tidak teratur yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia saat ini berada pada fase netral, dengan indeks minus 0,28, tetapi peluang berkembangnya El Nino cukup besar pada awal semester kedua 2026.
Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) atau fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Hindia tropis yang ditandai dengan perbedaan suhu permukaan laut antara wilayah barat (dekat Afrika Timur) dan wilayah timur (dekat Indonesia dan Australia) juga dalam kondisi netral, diperkirakan bertahan hingga pertengahan tahun. Suhu permukaan laut Indonesia diperkirakan normal hingga lebih hangat, antara 0,5-2 derajat Celsius.
Prediksi dominasi monsun Australia mulai Mei 2026 membawa massa udara kering ke Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Tengah. Kombinasi faktor ini memperbesar potensi kemarau panjang yang berdampak luas, terutama pada sektor pertanian yang sangat bergantung air.
BACA JUGA:Mentan Amran Pastikan Stok Beras Aman di Tengah Ancaman El Nino
Sementara itu, pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto menilai kemarau panjang yang dipicu El Nino berpotensi menekan produksi pangan.
"Fenomena ini (El Nino) membuat musim kemarau lebih panjang. Dampaknya jelas, tanaman menghadapi dua tekanan utama, yakni kekurangan air dan suhu tinggi," katanya menegaskan.
Kekurangan air menghambat penyerapan unsur hara, sementara suhu tinggi mempercepat penguapan dan menambah stres tanaman. Jika tidak diantisipasi, produktivitas turun, bahkan risiko gagal panen meningkat.
Oleh karena itu, langkah antisipasi harus komprehensif dan salah satu strategi yang dapat dilakukan berupa percepatan masa tanam. Dengan mempercepat tanam, tanaman masih bisa memanfaatkan sisa curah hujan sebelum kemarau benar-benar datang.
Dalam hal ini, pembibitan bisa dilakukan sebelum panen musim tanam pertama selesai. Dengan demikian ketika panen telah selesai, lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali, tanpa jeda.
Pemilihan varietas juga krusial karena tanaman yang toleran kekeringan, seperti padi gogo, bisa mengurangi risiko kerugian. Selain itu, optimalisasi sumber daya air dengan embung, sumur, dan sistem irigasi perpompaan membantu menjaga ketersediaan air.
BACA JUGA:Mentan Amran: Cadangan Beras Nasional Capai 4 Juta Ton, Aman hingga Akhir Tahun
Akan tetapi teknologi tersebut membutuhkan dukungan energi memadai, sehingga memerlukan kebijakan yang mendukung petani, terutama akses dan harga bahan bakar.
"Perlu kebijakan berpihak petani, baik harga maupun akses bahan bakar untuk operasional pompa air dan alat mesin pertanian," kata Prof Totok.
Selain itu, pengelolaan irigasi juga perlu dilakukan secara bijak, sehingga pengeringan saluran untuk perawatan sebaiknya dilakukan selektif agar distribusi air tidak terganggu pada saat kritis.