Ketika Layar Ponsel Menggantikan Pelukan, Anak Kian Jauh dari Dunia Nyata
Ilustrasi anak bermain ponsel--(freepik)
Namun, regulasi saja tidak cukup. Persoalan ini jauh lebih kompleks dari sekadar aturan administratif.
BACA JUGA:PP TUNAS Berlaku, TikTok Tutup Akun Anak di Bawah 16 Tahun, Roblox Terapkan Mode Offline
Ruang Digital Liar
Jika ditarik lebih dalam, masalah utama bukan hanya pada teknologi, tetapi pada ekosistem yang mengelilinginya.
Indonesia menghadapi kondisi di mana akses digital berkembang lebih cepat dibanding kesiapan sosial. Anak-anak dengan mudah memiliki akun media sosial, bahkan dengan memanipulasi data menggunakan identitas orang tua atau saudara.
Fenomena ini menunjukkan adanya celah besar dalam sistem pengawasan. Platform digital memang menyediakan batasan usia, tetapi implementasinya masih lemah. Verifikasi identitas belum berjalan ketat, sehingga aturan menjadi sekadar formalitas.
Di sisi lain, budaya penggunaan gawai di keluarga juga ikut membentuk situasi ini. Banyak orang tua yang memberikan ponsel sebagai alat hiburan atau bahkan “penjaga anak” tanpa pendampingan yang memadai. Akibatnya, ruang digital menjadi ruang liar yang diakses tanpa batas.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada perilaku individu, tetapi juga pada kohesi sosial. Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar cenderung kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Interaksi sosial menurun, empati melemah, dan kemampuan berkomunikasi langsung ikut tergerus.
Pengalaman negara lain bisa menjadi cermin. Sejumlah negara di Eropa menetapkan batas usia lebih tinggi untuk akses media sosial. China bahkan membatasi waktu penggunaan gawai bagi anak.
Kebijakan tersebut tidak lahir dari kekhawatiran semata, tetapi dari pengalaman panjang menghadapi dampak negatif digitalisasi.
Di Indonesia, kebebasan akses yang terlalu longgar justru membuat anak-anak lebih rentan. Tanpa batasan yang jelas, mereka terpapar konten global yang belum tentu sesuai dengan nilai lokal. Dalam konteks NTB yang memiliki kekuatan budaya dan religiusitas, ini menjadi tantangan serius.
Lebih menarik lagi, fenomena game role play seperti yang marak di platform daring menunjukkan bagaimana anak-anak mulai membangun realitas alternatif. Mereka menciptakan dunia sendiri, termasuk simulasi hubungan sosial yang belum sesuai usia.
Ini bukan sekadar permainan, melainkan proses pembentukan persepsi yang bisa memengaruhi cara pandang mereka terhadap kehidupan nyata.
BACA JUGA:Pembatasan Medsos Anak Didukung Orang Tua di Belitung, Ini Alasannya
Benteng Bersama