Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Hidup Bersama Ancaman Bencana yang Terlupakan

Seniman dari Genta Nanggro menampilkan tarian kelam sebelum pementasan teater Smong di Museum Tsunami, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (14/12/2024)-IRWANSYAH PUTRA-ANTARA FOTO

Cerita serupa juga ditemukan di Mentawai dengan Simouk Matau (“ke bukit”), di Bima dengan Soromandi Ngalu (“bergerak ke kawasan hutan”) saat banjir bandang, serta dalam struktur sosial dan arsitektur tradisional seperti Tongkonan Layuk di Sulawesi yang terbukti lebih aman terhadap gempa dan likuefaksi.

Semua contoh ini memiliki satu kesamaan penting: ketangguhan tidak dibangun secara instan, melainkan diwariskan. Ia hidup dalam ingatan kolektif, dipelihara melalui praktik sosial, dan diperbarui dari generasi ke generasi.

BACA JUGA:MBG, Sejauh Mana Negara Masuk ke Dapur Warga

Dalam literatur kebencanaan, ketangguhan sering dipahami sebagai kemampuan untuk pulih setelah bencana. Namun pengalaman komunitas penyintas di atas menunjukkan bahwa ketangguhan sejati justru bekerja sebelum bencana terjadi melalui pewarisan pengetahuan, nilai, dan respons yang telah teruji oleh waktu.

Inilah esensi ketangguhan antar-generasi. Ketangguhan bukan hanya atribut individu atau hasil intervensi teknis, melainkan proses sosial jangka panjang yang memungkinkan generasi muda “meminjam pengalaman” dari generasi sebelumnya. Dalam konteks ini, orang tua, tetua adat, dan komunitas bukan sekadar penyintas masa lalu, tetapi penyangga dan penjaga memori risiko.

Tanpa proses pewarisan ini, masyarakat berisiko terjebak dalam risk normalization: hidup berdampingan dengan ancaman, tanpa kewaspadaan yang memadai. Adaptasi menjadi reaktif, bukan reflektif, apalagi transformatif yang menjangkau masa depan generasi yang datang kemudian. Ketangguhan menjadi rapuh, tidak tumbuh, dan meluruh.

Ketangguhan lokal

Konteks bencana pada hakikatnya bersifat sangat lokal. Ancaman yang dihadapi masyarakat pesisir berbeda dengan masyarakat lereng gunung, dataran banjir, atau kota yang mengalami penurunan muka tanah. Karena itu, ketangguhan tidak bisa dibangun melalui satu resep universal (one fits for all).

BACA JUGA:Mengkaji Wacana Gubernur Dipilih DPRD

Justru di sinilah unit sosial terkecil: dusun, kampung adat, nagari, kelurahan, menjadi arena kunci. Di tingkat ini relasi antar-generasi berlangsung secara alami, pengetahuan lokal terjaga hidup, dan keputusan kritis saat bencana benar-benar dibuat, diterapkan, dan diuji.

Keberulangan bencana yang tidak diantisipasi secara lintas generasi juga berkontribusi pada terperangkapnya kelompok rentan dalam lingkaran kemiskinan. Masyarakat miskin sering kali tidak memiliki pilihan selain tinggal dan beraktivitas di ruang-ruang berisiko tinggi: bantaran sungai, pesisir rendah, lereng curam.

Setiap kejadian bencana tidak hanya menghancurkan aset fisik, tetapi juga memperlemah kapasitas ekonomi dan sosial lintas generasi (cascading impact). Tanpa mekanisme ketangguhan yang diwariskan, bencana menjadi faktor penguat kemiskinan struktural, bukan sekadar gangguan sementara.

Jika masyarakat pada tingkat paling rentan tetap siaga, sadar risiko, dan memiliki mekanisme pewarisan pengetahuan lintas generasi, maka ketangguhan nasional sesungguhnya sedang terbangun dari bawah. Ketangguhan nasional bukanlah entitas abstrak, melainkan interaksi terakumulasinya secara sosio-kultural ribuan komunitas lokal yang memahami ancaman di sekitarnya dan tahu bagaimana meresponsnya.

Mendukung, tidak menggantikan

Ketangguhan berbasis komunitas tidak dapat dibiarkan tumbuh secara sporadis. Ia memerlukan dukungan ekosistem yang melibatkan berbagai pelaku: akademisi (periset, peneliti, perekayasa), pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, dan komunitas itu sendiri, dalam kerangka penta-helix.

BACA JUGA:Ketika Iklim Menjadi Risiko Ekonomi, Alarm Bagi Indonesia

Peran pemangku kepentingan di luar komunitas bukan untuk menggantikan inisiatif lokal, melainkan untuk, antara lain dan tidak terbatas pada upaya: menyediakan kerangka panduan (pedoman, guidance) yang mudah dipahami, memfasilitasi pembelajaran lintas wilayah dan lintas generasi, serta (memastikan bahwa upaya lokal terhubung dengan sistem formal seperti pendidikan, perencanaan wilayah, dan peringatan dini.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan