Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Hidup Bersama Ancaman Bencana yang Terlupakan

Seniman dari Genta Nanggro menampilkan tarian kelam sebelum pementasan teater Smong di Museum Tsunami, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (14/12/2024)-IRWANSYAH PUTRA-ANTARA FOTO

Pengalaman negara-negara yang relatif tangguh seperti Jepang, Chili, dan Meksiko menunjukkan bahwa ketangguhan nasional yang kuat selalu bertumpu pada komunitas lokal yang sadar risiko, didukung oleh negara dan pengetahuan ilmiah (berbasis sains dan teknologi), serta tetap berakar pada konteks sosial-budayanya.

Membangun ketangguhan antar-generasi

Bagi masyarakat dengan keterbatasan sumber daya, ketangguhan bukan soal teknologi canggih, melainkan soal pengetahuan yang tepat, kesiapsiagaan kolektif, dan solidaritas sosial yang diwariskan. Oleh karena itu, panduan di tingkat komunitas menjadi instrumen kunci untuk memutus reproduksi risiko sekaligus kerentanan ekonomi lintas generasi.

Untuk menjembatani refleksi konseptual dengan praktik nyata, ketangguhan antar-generasi dan resiliensi sosial di tingkat komunitas terkecil dapat dibangun melalui tiga langkah awal sederhana.

BACA JUGA:Kala Rumah Sakit jadi Tumpuan Bertahan Hidup Saat Bencana Banjir

Pertama, mengenali ancaman lokal. Masyarakat perlu bersama-sama mengidentifikasi ancaman paling nyata di sekitarnya: tsunami, banjir, longsor, gempa, atau penurunan tanah, berdasarkan pengalaman, sejarah lokal, dan pengetahuan ilmiah yang tersedia.

Kedua, menghidupkan kembali memori risiko lintas generasi (institusionalisasi memori). Tutur cerita warga berumur tentang pengalaman masa lalu, penamaan tempat, dan praktik adat perlu diangkat kembali sebagai sumber pembelajaran bersama, sehingga risiko menjadi “hadir” dalam kesadaran generasi muda.

Ketiga, mengubah ingatan menjadi kesepakatan dan praktik kolektif. Pengetahuan dan memori tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kesepakatan komunitas: jalur evakuasi, titik aman, peran keluarga, latihan sederhana, serta integrasi dengan sekolah dan sistem peringatan dini.

Dengan dukungan penta-helix, tiga langkah ini memungkinkan masyarakat membangun ketangguhannya sendiri, sesuai dengan ancaman yang dihadapinya, tanpa kehilangan akar lokalnya.

Dalam era perubahan iklim dan meningkatnya ketidakpastian, ketangguhan tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan “bangkit kembali lebih baik”. Ia perlu dimaknai sebagai kemampuan untuk terus belajar lintas generasi, beradaptasi lintas waktu, dan hidup berdampingan dengan risiko secara sadar dan bermartabat.

BACA JUGA:Proyek Bansos: Dari Niat Baik ke Hasrat Menyimpang

Jika ancaman alam bekerja dalam skala waktu geologis dan klimatologis, maka ketangguhan manusia harus bekerja dalam skala waktu sosio-kultural yang sama panjangnya. Local–indigenous knowledge yang terpelihara di Indonesia menunjukkan bahwa masa depan yang lebih aman sering justru berakar pada ingatan masa lalu yang dijaga dengan baik.

Ketangguhan antar-generasi, dengan demikian, bukan sekadar konsep akademik, tetapi warisan hidup, yang menentukan apakah generasi berikutnya akan kembali menjadi korban, atau justru menjadi generasi yang lebih siap.

Memutus mata rantai bencana dan kemiskinan tidak cukup dilakukan melalui bantuan pasca-bencana atau pembangunan fisik semata. Ia harus dimulai dengan memutus kurva pelupaan, yakni terputusnya ingatan, pengetahuan, dan kewaspadaan lintas generasi. Ketangguhan antar-generasi menjadi kunci, karena di sanalah pengalaman masa lalu diubah menjadi modal sosial untuk melindungi kehidupan dan penghidupan generasi yang akan datang. (ant)

Oleh: Dr Andi E Sakya M Eng

Perekayasa Ahli Utama, Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN,

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan