Maut Datang Usai Nekat Telanjangi Bukit Tapanuli
Batang pohon hanyut bersama banjir bandang di Kelurahan Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara-M Riezko Bima Elko Prasetyo-ANTARA
BACA JUGA:Bulog Pastikan Penyaluran Beras untuk Bencana Tak Ganggu Stok Nataru
"Banyak pemain-pemainnya di sini pak. Saya tidak bisa berbuat banyak," kata dia saat ditemui ANTARA. Ia bercerita dalam beberapa bulan terakhir pemerintah daerah tengah gencar menyosialisasikan larangan menanam sawit. Namun, bukit-bukit itu sudah kadung dibabat yang akhirnya berbuah longsor.
Menurut Polma, dia sempat mendapati beberapa titik tebing bukit runtuh hingga membentuk danau berdiameter belasan meter yang airnya tidak langsung turun karena tertahan oleh batang-batang pohon raksasa yang tumbang bersama tanah.
Temuan lapangan menunjukkan hal yang lebih gelap lagi. Lokasi terjamah tersebar dari Bukit Malaka hingga Bukit Sigiring-giring. Sampai ke Tapian Nauli, setiap bukit kini memiliki bekas longsoran.
Hutan yang dulu menjadi penjaga berubah menjadi kebun karet, setelah tidak lagi menghasilkan karet ditebang dan dibakar. Sementara warga sudah menyiapkan bibit sawit. Ini sangat mudah ditemui, sawit setinggi 10-15 centimeter terusun rapi dalam polybag di banyak halaman rumah warga. Alih-alih untung justru inilah yang mengundang bencana.
Padahal Hutanabolon itu perbukitan curam lebih dari 25 derajat dan sekaligus dikepung oleh aliran sungai. Itu sudah sangat jelas tidak cocok untuk ditanami kelapa sawit, salah satunya diatur dalam UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan Peraturan Pemerintah nomor 38/2011 tentang Sungai, maupun pedoman standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Hasil pemetaan, ditemukan di balik perbukitan yang menjulang 500 meter di atas permukaan laut (DPL), terdapat PLTA Sipansihaporas. Di bawahnya mengalir Sungai Aek Sommanggita, Aek Godang, Aek Hopong Na Dao, dan Aek Paru yang mengarah ke Hutanabolon. Namun longsor telah mengubah semua alur ini. Sungai-sungai itu mencari jalan baru, menabrak sawah, merobek jalan utama, menghancurkan rumah, dan menyeret batu sebesar enam meter lebih seperti mainan.
BACA JUGA:BNPB Perkirakan Biaya Perbaikan Kerusakan Bencana Sumatera Capai Rp51,82 Triliun
Tiga kilometer dari arah timur laut permukiman di Lingkungan IV Hutanabolon, ada sebuah destinasi wisata air terjun Pondok Bambu yang ikut runtuh kehilangan hulunya. Menurut warga setempat, bukit wisata alam itu sudah gundul sejak tahun lalu, sekarang kondisinya sudah rata dan airnya mengalir tanpa henti ke permukiman warga.
Hari ke-15 pascabencana, angka korban masih diperbarui. Di Hutanabolon saja sepuluh jiwa ditemukan meninggal. Sedikitnya ada 15 orang masih dinyatakan hilang, sebagian besar ada di Lingkungan IV yang sudah tampak seperti latar film perang. Rumah-rumah milik lebih dari 150 keluarga hancur bahkan separuh sudah tak rata dengan tanah. Dalam skala lebih luas, Tapanuli Tengah mencatat 110 orang meninggal, 93 orang hilang, dan ratusan ribu jiwa mengungsi posko darurat.
Tegas sekali bencana ini bukan sekadar tentang curah hujan tinggi karena dinamika atmosfer atau sekadar tanah yang runtuh. Ia adalah cerita panjang akibat ulah manusia itu sendiri yang nekad menelanjangi bukit dari tutupan hutan. Selama keseimbangan itu terus diabaikan, tragedi hanya menunggu giliran untuk kembali turun dari lereng.
Maut itu tidak pernah datang tergesa-gesa. Ia berjalan perlahan seperti embun yang turun tanpa suara. Ia menunggu manusia membuka celah pertama di tubuh bukit yang selama ini diam menjaga rahasianya. Setiap tebasan batang yang tumbang, setiap alur air yang dipaksa berubah arah, adalah undangan yang tidak diucapkan.
Ketika akhirnya maut itu datang, ia tidak mengetuk pintu. Ia datang sebagai tanah yang pecah, air yang menerjang, batu yang meluncur. Ia datang sebagai malam gelap yang memeluk apa pun yang berdiri di bawah bukit. Rumah, jalan, ladang, manusia. Semua tanpa dipilih-pilih.
Setelahnya, aliran sungai rusak hingga air mengalir dari banyak sisi. Bukit berdiri telanjang memamerkan luka yang terlalu lebar untuk ditatap. Dan manusia kembali membangun, mencoba berdamai dengan tanah hutan yang mereka sakiti sendiri. Begitulah maut datang di Tapanuli: Pelan, gelap, lalu menghilang, meninggalkan manusia dengan sebuah pertanyaan apakah semua puas dengan dampak dari kerusakan alam ini? (ant)
Oleh: M. Riezko Bima Elko Prasetyo