Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Saat Pejabat Menjelma Jadi Idola Masyarakat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/11/2025)-Rivan Awal Lingga/bar-ANTARA FOTO

Pembalasan selalu datang pada jadwal yang tidak kita ketahui.

Kita sedang hidup pada era ketika integritas menjadi barang mahal. Kalau rakyat mudah jatuh cinta pada pejabat yang sekadar bekerja dengan benar, itu bukan pujian—itu alarm keras untuk semua orang yang memegang kuasa bahwa kekaguman publik bukan hadiah, melainkan tuntutan agar mereka tetap waras, tetap bersih, dan tetap ingat: di atas segala hiruk pikuk panggung kekuasaan, ada hari pembalasan yang mustahil bisa dihindari.

Yang membuat rakyat jatuh hati bukanlah citra, melainkan ketulusan yang memancar dari kerja yang nyata. Kita hidup di zaman ketika kejujuran terasa langka, sehingga pejabat yang sekadar menjalankan amanah pun langsung dianggap pahlawan. Mungkin itu bukan pujian berlebihan, melainkan sinyal betapa kita rindu dipimpin oleh mereka yang jernih hati dan lurus langkahnya.

BACA JUGA:Papatonk, Kerupuk Udang 'Made in Indonesia' untuk Pasar China

Di tengah riuh dunia yang serba pamer, orang-orang yang bekerja tanpa pamrih justru paling bersinar. Mereka menjadi oase kecil di negeri yang letih berharap. Kita tahu, kekuasaan adalah ujian paling sunyi: tidak berteriak, tidak memaksa, hanya menunggu untuk melihat siapa yang tetap tegak dan siapa yang tergelincir.

Dan bagi siapapun yang mengemban amanah negara, sebuah pengingat halus mengalir dari ruang batin rakyat: bahwa jabatan bukan warisan, melainkan titipan. Kekayaan yang diraih dari cara-cara kotor hanya tampak megah dari luar, tapi sesungguhnya membawa kesuraman yang diam-diam memakan hidup. Setiap tindakan akan kembali pada pelakunya, begitulah bekerjanya semesta, begitulah berjalannya keadilan Tuhan.

Maka, bila ada segelintir pejabat yang memilih jujur di tengah arus godaan, wajar jika rakyat memeluk mereka sebagai idola baru. Mungkin di sana kita melihat secercah harapan bahwa negeri ini belum kehilangan arah. Bahwa yang baik masih mungkin tumbuh. Bahwa keteladanan, betapa pun langkanya, masih bisa muncul dari tempat yang jarang kita sangka.

Dan selama itu ada, rakyat tidak akan lelah berharap. Tidak akan berhenti mencintai mereka yang memilih jalan lurus, meski sunyi, meski berat, demi martabat bangsa ini. (ant)

Oleh: Sizuka

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan