Guruku Sayang, Guruku (Jangan Sampai) Malang
Tidak hanya mengajar pelajaran di kelas, guru juga mendidik akhlak anak-Sizuka-ANTARA
Komplain kecil menjelma tuntutan besar. Ketidaknyamanan berubah menjadi laporan. Bahkan sebelum guru diberi ruang menjelaskan, masalah sudah berubah menjadi kasus. Anehnya, orang tua yang paling mudah melapor sering pula adalah mereka yang berkata telah mempercayakan pendidikan anaknya pada sekolah.
Kepercayaan, ternyata, di negeri ini mudah diucapkan, tetapi cepat ditarik begitu terjadi gesekan kecil.
Jika orang tua merasa mampu mendidik anak sepenuhnya, sekolah sebenarnya tak perlu menjadi tempat menitipkan harapan sekaligus melimpahkan kemarahan.
Namun, bila memang pendidikan adalah kerja bersama, maka guru layak dihargai sebagai mitra, bukan tersangka. Karena bagaimana mungkin guru mendidik generasi tangguh bila setiap langkahnya dipertaruhkan di atas meja pengaduan? Bagaimana mungkin anak belajar hormat, bila kita sendiri tak memberi teladan menghormati mereka yang mengajar?
Di titik ini, refleksi itu mengetuk: barangkali bukan guru yang berubah, tapi kitalah yang perlu belajar kembali cara memuliakan mereka.
Bakti sunyi
Di tengah derasnya tuntutan yang tak selalu sebanding dengan penghargaan, guru tetap datang setiap pagi dengan satu bekal yang tak pernah habis: panggilan jiwa.
BACA JUGA:Membeli Status Berkelas dari Baju Bekas
Ada janji-janji perbaikan yang berembus dari berbagai arah, ada apresiasi yang kadang hanya hadir seremonial, dan ada pula ekspektasi masyarakat yang terus meninggi.
Namun di balik itu semua, makna besar dari pekerjaan seorang guru tak pernah berkurang, sekalipun ruang untuk benar-benar dihargai belum selalu terbuka sebagaimana mestinya.
Sebab guru tidak hidup dari pujian, tetapi dari cahaya kecil yang mereka nyalakan di kepala dan hati murid-muridnya. Cahaya yang mungkin tak langsung terlihat, tapi perlahan tumbuh menjadi karakter, menjadi keberanian, menjadi arah hidup seseorang.
Tiap kali seorang murid melangkah lebih jauh dari yang ia bayangkan, ada jejak guru yang diam-diam ikut berjalan di sana.
Tidak ada bakti guru yang sia-sia. Tidak ada pengorbanan yang luput dari hitungan. Ketika dunia belum memberi cukup tempat, ada Yang Maha Memperhitungkan setiap niat, setiap kesabaran, setiap tetes lelah yang tak sempat disuarakan.
Kemuliaan hidup bukan hanya soal materi yang diterima, melainkan tentang amal yang tak pernah putus —ilmu yang terus mengalir bahkan setelah seorang guru menutup kelasnya untuk terakhir kali.
BACA JUGA:Perjalanan Panjang Bilqis di Lingkaran TPPO Bermodus Adopsi
Wahai guru, tetaplah mengajar dengan hati; tetaplah menyalakan api kecil itu, meski suasana kadang terasa remang.