Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Indonesia Darurat Judi Online!

Ares Faujian--(Dok: Pribadi)

Individu yang mengalami tekanan ekonomi, kegagalan mencapai status sosial, atau ekspektasi yang tidak terpenuhi cenderung mencari jalan pintas, seperti judi online, untuk memperoleh keuntungan finansial secara cepat (Greco & Curci, 2017; Malkin, 2024). 

BACA JUGA: Solusi Mengatasi 'Pandemi' Judi Online

Dalam konteks judi online, orang yang menghadapi keterbatasan ekonomi melihat taruhan digital sebagai solusi cepat untuk memenuhi impian finansial. Mereka tidak lagi mengandalkan kerja keras konvensional, melainkan mencoba “mengakali” realitas dengan berjudi. 

Teori Robert K. Merton ini mengisyaratkan bahwa solusi harus menyentuh akar struktural, yaitu memperluas lapangan kerja, memperbaiki akses pendidikan, dan memperkuat jaring pengaman sosial agar masyarakat tidak mencari jalan pintas.

Analisis Differential Association Theory

Differential Association Theory (Teori Asosiasi Diferensial) dari Edwin H. Sutherland menekankan bahwa perilaku menyimpang, termasuk judi online, dipelajari melalui interaksi sosial dengan orang-orang yang sudah memiliki perilaku tersebut. 

Sutherland menegaskan bahwa seseorang menjadi kriminal karena berasosiasi dengan orang-orang yang sudah memiliki nilai dan perilaku kriminal. Proses belajar ini meliputi teknik melakukan kejahatan dan motif, dorongan, serta rasionalisasi perilaku tersebut (Laub, 2006; Matsueda, 2006; James, 1939).

Mekanisme pengaruh sosial dalam judi online ini dapat dideskripsikan, antara lain: 1) Pembelajaran melalui interaksi, yaitu individu belajar tentang judi online melalui komunikasi dan interaksi dengan teman, keluarga, atau komunitas daring yang sudah berjudi (Lee & Nam, 2023; Silfiana et al., 2024; Vepsäläinen et al., 2024); 2) Frekuensi dan intensitas paparan, yaitu semakin sering dan intens seseorang berinteraksi dengan pelaku judi online, semakin besar kemungkinan ia mengadopsi perilaku tersebut (Lee & Nam, 2023; Silfiana et al., 2024); 3) Peran komunitas online, yaitu partisipasi dalam komunitas daring yang membahas atau mempromosikan judi online meningkatkan risiko keterlibatan dan kecanduan, terutama jika individu merasa teridentifikasi dengan kelompok tersebut (Vepsäläinen et al., 2024).

BACA JUGA:Penerapan Transformasi Keamanan Digital Cegah Judi Daring

Dari beberapa riset, faktor sosial utama pendorong judi online menurut teori asosiasi diferensial, antara lain: 1) Studi pada remaja menunjukkan bahwa pengenalan judi oleh teman sangat berpengaruh pada perilaku judi online, meski bermain bersama teman lebih dominan pada judi offline (Lee & Nam, 2023); 2) Komunitas online dan “identity bubbles” memperkuat perilaku adiktif, menjadikan lingkungan daring sebagai faktor risiko utama (Vepsäläinen et al., 2024); 3) Promosi dan normalisasi judi di media sosial juga memperluas jangkauan pengaruh sosial (Silfiana et al., 2024).

Di era digital, proses ini berlangsung lebih cepat, yakni melalui grup media sosial, forum daring, dan influencer menjadi saluran pembelajaran perilaku berjudi. Para pemain tidak hanya bertukar tips menang, tetapi juga membangun narasi pembenaran moral, yang seolah-olah judi hanyalah hiburan biasa. Dari perspektif teori ini, intervensi bisa dilakukan lewat literasi digital, kampanye kontra-narasi, serta penciptaan komunitas sebaya yang mempromosikan gaya hidup sehat tanpa judi.

Dampak Sosial Nyata

Ada beberapa dampak sosial dari adanya kasus judi online ini. Penulis mengambil dari beberapa kajian yang telah dilakukan oleh para peneliti/ akademisi. Pertama, isolasi sosial dan penurunan interaksi. 

Pelaku judi online cenderung mengalami isolasi sosial, menjadi malas bergaul, dan menarik diri dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan teman (Sahputra et al., 2022; Bakhtiar & Adilah, 2024; Nayottama, 2024). Kecanduan judi online membuat individu lebih fokus pada permainan daripada berinteraksi sosial, sehingga hubungan sosial memburuk (Matheba, 2024; Yani-De-Soriano et al., 2012).

Dampak kedua adalah adanya konflik dan keretakan hubungan. Judi online sering menyebabkan konflik dalam keluarga, seperti pertengkaran, penurunan kepercayaan, bahkan perceraian akibat masalah keuangan dan komunikasi (Trisnawati & Mahmudi, 2024; Mukhammad et al., 2024; Matheba, 2024). Pada remaja, judi online menyebabkan penurunan prestasi akademik dan mengabaikan kewajiban sosial maupun agama (Sahputra et al., 2022; Nurdiansyah & Kanda, 2024).

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan