Era AI, Transformasi Besar MRO Penerbangan yang Tak Terhindarkan
Dokumentasi satu pesawat terbang milik PT Garuda Indonesia Tbk dalam proses perawatan dan pemeliharaan di hanggar PT Garuda Maintenance Facility di dalam kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten--ANTARA
Selain itu, mereka juga menggunakan AI untuk mengonversi dokumen teknis menjadi basis pengetahuan interaktif, serta mengotomatiskan proses Continuing Airworthiness Management Organisation (CAMO).
Salah satu tantangan besar dalam MRO adalah ketersediaan suku cadang. Terlalu banyak stok berarti pemborosan; kekurangan stok berarti pesawat menganggur. AI menawarkan solusi prediktif berbasis data.
Melalui pemantauan tren global dan pola kerusakan, AI membantu dalam hal menghindari kelebihan atau kekurangan stok, merencanakan pengadaan secara lebih akurat, dan menekan biaya logistik dan menyederhanakan rantai pasok
BACA JUGA:Esensi Pajak E-Commerce dan Lompatan Perpajakan Digital Indonesia
Contoh kasusnya adalah Emirates Airlines mengadopsi Ramco Aviation Suite dengan integrasi machine learning untuk mengelola rantai pasok dan perawatan armadanya. Sistem ini mampu memprediksi kebutuhan suku cadang, mengidentifikasi stok yang tidak bergerak, serta mempercepat proses pengadaan.
Meskipun Emirates tidak merilis angka resmi, implementasi AI pada sistem ini diketahui mampu menghemat biaya material hingga 6 persen per tahun, sekaligus menurunkan risiko AOG dan meningkatkan efisiensi logistik.
Bukan Sekadar Adaptif
Kita tidak lagi berbicara tentang adopsi teknologi setiap dekade kita hidup di masa di mana perubahan terjadi dalam hitungan bulan, bahkan hari. AI bukan hanya aksesoris digital melainkan jantung baru dari operasi MRO modern.
Oleh karena itu, menjadi AI-native bukan sekadar digital adalah keharusan. Organisasi MRO yang tidak melakukan transformasi mendalam berisiko ditinggal zaman. Dunia tidak akan menunggu. Pelanggan tidak akan menunggu.
BACA JUGA:Satu Rumah Satu Sarjana Antarkan Asa Mengenyam Pendidikan Tinggi
Pertanyaannya kini bukan lagi “Apakah kita siap untuk berubah?” Tetapi “Apakah kita siap untuk ditinggalkan oleh dunia yang sudah berubah?”
Banyak yang masih melihat AI sebagai ancaman, terutama bagi pekerjaan manusia. Namun kenyataannya, AI justru membuka ruang baru untuk produktivitas, akurasi, dan keselamatan. Teknisi tidak digantikan, tapi diberdayakan. Sistem tidak menjadi lebih rumit, justru lebih efisien dan terukur.
Transformasi MRO dengan AI bukanlah pilihan, tapi keniscayaan. Mereka yang bergerak lebih awal akan memetik hasil lebih cepat, sementara yang lamban akan tertinggal dalam turbulensi disrupsi teknologi.
Selamat datang di era baru.Selamat datang di dunia di mana MRO tidak lagi dilakukan dengan intuisi, tetapi dengan kecerdasan buatan. Selamat datang di masa depan, yang sudah tiba hari ini. (ant)
Oleh: Ananta Wijaya ST MSc
CEO Aerozeta Engineering 2023 - 2025, Direktur Base and Base Operation GMF AeroAsia 2021-2023, Direktur Teknik Sriwijaya Air 2011-2016