Era AI, Transformasi Besar MRO Penerbangan yang Tak Terhindarkan
Dokumentasi satu pesawat terbang milik PT Garuda Indonesia Tbk dalam proses perawatan dan pemeliharaan di hanggar PT Garuda Maintenance Facility di dalam kompleks Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten--ANTARA
Mereka mengoptimalkan jadwal perawatan (menghemat waktu layover 5–10 persen), mengekstrak informasi dari dokumen teknis dan grafik, serta mengotomatiskan tugas-tugas kompleks. Inisiatif ini merupakan bagian dari program #DigitizeTheCore, sebuah misi untuk mentransformasi industri dari dalam.
AI telah mendesain ulang proses internal MRO agar lebih luwes dan cepat. Yang dulunya sarat birokrasi kini menjadi seperti percakapan digital yang efisien.
BACA JUGA:Menjaga Penerimaan Negara di Tengah Babak Baru Kebijakan Tarif Trump
Teknisi dapat meminta suku cadang, menyetujui work order, atau melaporkan status pekerjaan hanya melalui antarmuka mirip WhatsApp. Pengguna tidak lagi perlu menghafal kode transaksi dari aplikasi yang di pakai dalam menjalankan kegiatan maintenance.
Tentang ini, contoh kasusnya adalah AvSight, sebuah startup asal Amerika Serikat, menyediakan platform AI bernama AvSight Support Co-Pilot. Teknisi cukup mengetik, misalnya, “Request part A320 brake unit,” dan sistem akan merespons secara instan dengan detail ketersediaan stok, estimasi pengiriman, dan pilihan vendor. Semua terekam dan terdokumentasi secara digital.
AI juga berfungsi layaknya asisten cerdas di lapangan. Ketika terjadi kerusakan, sistem mampu mengidentifikasi komponen bermasalah melalui pola data historis, menyediakan referensi seperti Airworthiness Directive atau Service Bulletin, dan menawarkan langkah perbaikan berdasarkan Aircraft Maintenance Manual (AMM).
Contoh kasusnya adalah GE Aviation bekerja sama dengan Accenture untuk mengembangkan sistem bernama Taleris. Maskapai Etihad Airways telah memanfaatkan Taleris untuk menganalisis data penerbangan dan memprediksi potensi gangguan teknis, dan hasilnya pengurangan pemeliharaan tak terjadwal, lebih sedikit keterlambatan penerbangan, dan peningkatan keandalan armada.
BACA JUGA:25 Tahun Bangka Belitung: Saatnya Pemimpin Kembali ke Akar 'Serumpun Sebalai'
Juga Boeing Smart Repair, sistem berbasis AI, yang membantu tim pengadaan menganalisis dan mengevaluasi data perbaikan kompenen pesawat secara otomatis. Sistem ini bisa melakukan pengecekan garansi, melakukan perbandingan harga vendor, bahkan membuat email negosiasi ke vendor. Salah satu Maskapai yang menggunakan sistem ini berhasil menekan biaya hingga 50 persen dalam enam bulan.
Selain membantu perawatan, AI juga mampu mendukung perencanaan ulang penerbangan secara otomatis jika terjadi gangguan. Hal ini sangat membantu airline Maintenance Control Centre.
Contoh kasusnya adalah Taleris menggunakan data real-time dan historis untuk membantu maskapai menyesuaikan jadwal penerbangan dan alokasi pesawat secara cerdas mengurangi dampak gangguan operasional yang tak terhindarkan.
Kepatuhan terhadap regulasi penerbangan internasional dari FAA dan EASA adalah keharusan dalam dunia MRO. Namun, proses pelaporan sering kali menyita waktu dan sumber daya.
BACA JUGA:Keceriaan Memecahkan Heningnya Asrama Sekolah Rakyat Pelosok Negeri
Kini AI memungkinkan pembaruan otomatis terhadap status tugas yang terkait dengan kepatuhan, menyusun laporan teknis dalam format standar yang dapat langsung dikirim ke otoritas, dan mencatat audit digital yang dapat diakses kapan saja.
Contoh kasusnya adalah Singapore Airlines Engineering Company (SIAEC), bersama lembaga riset A*STAR, mengembangkan sistem berbasis AI yang dapat menganalisis data sensor untuk memprediksi kegagalan komponen.