Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Antara Akal dan Algoritma Mendidik Manusia Bersama Mesin

Mangifera Indica Juarsyah--(Dok: Pribadi)

Penting juga dicatat bahwa integrasi mesin dalam pendidikan mesti berangkat dari kesadaran nilai. Mesin hanyalah alat, dan seperti alat lain, ia membawa nilai dari penciptanya. Maka, tanpa desain peka nilai (value sensitive design), tanpa literasi digital yang kritis, tanpa pelibatan etis dalam pengembangannya, maka pendidikan akan menjadi sarana normalisasi ketimpangan, kontrol algoritmik, bahkan kolonialisasi digital. 

BACA JUGA:AI dan Pekerjaan: Evolusi atau Eliminasi?

Prof. Siti dengan tegas menolak mesin sebagai pengganti guru, tetapi mendorong pemanfaatannya secara sadar, adil, dan beretika untuk melayani visi pendidikan yang membebaskan.

Oleh karena itu, bukan sekadar permainan diksi antara akal dan algoritma. Ia adalah panggilan untuk menciptakan sinergi yang bijak antara kecanggihan mesin dan kedalaman manusia. Sebuah seruan agar pendidikan tetap menjaga kemanusiaannya di tengah badai otomatisasi dan data. 

Antara akal yang hidup dan algoritma yang dingin, tugas kita adalah menjembatani keduanya agar yang mekanis tidak mereduksi yang manusiawi, dan yang manusiawi tidak teralienasi oleh yang artifisial.

Pada akhirnya, pertaruhan terbesar bukanlah sekadar siapa yang lebih cerdas—manusia atau mesin—tetapi apakah pendidikan masih mampu mempertahankan wajah kemanusiaannya. Antara akal dan algoritma, di sanalah ruang harapan bagi masa depan yang lebih beradab dan berkeadilan.

*) Mangifera Indica Juarsyah, S.Pd.,Gr, Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Manggar 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan