Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Perjudian Donald Trump di Iran yang Membahayakan Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun dari helikopter Marine One saat kembali ke Gedung Putih di Washington D.C, Amerika Serikat, Sabtu (21/6/2025). Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa Amerika Serikat telah menyelesaikan serangan terhadap tiga lo-Xinhua/Hu Yousong/nym-ANTARA FOTO

Banyak kalangan AS yang mengkhawatirkan Iran makin nekat.

Iran mungkin tidak lagi hanya menyerang Israel, tetapi juga kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah, termasuk puluhan pangkalan militer mereka di Arab Saudi, Oman, Irak, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

BACA JUGA:Media Sosial & Penurunan Kualitas Pendidikan Anak

Dan menteri luar negeri, wakil tetap Iran di PBB, dan apalagi pimpinan militer Iran, sudah berikrar untuk tidak tunduk kepada diplomasi yang disertai ancaman dan agresi.

Jika Iran memutuskan menyerang fasilitas-fasilitas militer AS di Timur Tengah, maka akibatnya fatal, karena itu sama artinya mengharuskan Iran masuk atau melintasi wilayah-wilayah negara-negara Arab di mana fasilitas militer AS itu berada. Jika ini terjadi, perang bisa meluas.

Saat ini saja, Iran melepaskan rudal-rudal mereka dengan melintasi wilayah udara Irak, Suriah dan Lebanon, karena tak mau melintasi sejumlah negara Teluk dan Yordania, yang selain menolak menjadi medan perang Iran-Israel, juga terikat hubungan keamanan dengan AS.

Bisa makin nekat

Hal membahayakan lain adalah jika tafsiran perang lebih dari sekadar alat perang, tetapi juga apa pun yang menjadi representasi nasional dari negara-negara yang berperang.

Itu artinya segala fasilitas sipil dan kegiatan sipil, termasuk perdagangan minyak, dianggap sah sebagai target perang.

BACA JUGA:Mengunjungi Desa Hasil Revitalisasi Ala China

Dalam kondisi ini, perang tidak cuma terjadi di wilayah Iran dan Israel, tapi juga tempat-tempat lain yang dianggap memiliki kaitan dengan pihak-pihak yang berperang.

Dan itu termasuk Selat Hormuz yang dijepit Oman dan Iran.

Iran yang berpengalaman menghadap perang panjang dengan Irak dari 1980 sampai 1988, ditambah terbiasa menghadapi sanksi internasional yang bahkan AS melakukannya sejak 1984, bisa nekat menutup koridor-koridor perdagangan global, termasuk Selat Hormuz yang menjadi jalur untuk 30 persen perdagangan minyak dunia. Bayangkan akibatnya terhadap sistem harga global dan stabilitas perekonomian dunia.

Tindakan nekat bisa terjadi, apalagi selama ini Iran merasa terus-terusan diakali dan dikhianati oleh AS dalam bungkus diplomasi untuk pembebasan sanksi internasional dengan imbalan pelucutan program nuklir.

Saat ini saja ada konsensus di bagian terbesar elite Iran bahwa apa pun yang mereka lakukan akan dianggap tidak pernah cukup oleh Barat, khususnya AS.

BACA JUGA:Impor Beras Versus Pengadaan Domestik

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan