Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Media Sosial & Penurunan Kualitas Pendidikan Anak

Ilustrasi: Media Sosial & Penurunan Kualitas Pendidikan Anak--(freepik)

Jika kebiasaan ini terus berlanjut, anak-anak akan semakin sulit mengembangkan kemampuan berpikir reflektif dan analitis—dua keterampilan yang sangat penting dalam pendidikan. Dampak lainnya adalah pada aspek sosial dan emosional. Media sosial tidak hanya memengaruhi cara anak belajar, tetapi juga bagaimana mereka berinteraksi dan menilai diri sendiri. 

BACA JUGA:Mengatasi Defisit Akhlak Anak dengan Tradisi Bertutur

Cyberbullying, kecemasan sosial, dan rasa rendah diri akibat membandingkan hidup mereka dengan kehidupan "sempurna" yang ditampilkan orang lain di media sosial, menjadi masalah yang semakin umum. Alih-alih memperkuat koneksi sosial, media sosial justru bisa membuat anak-anak merasa terisolasi, cemas, dan kurang percaya diri.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Andi Nurlela, Atma Ras, dan Musrayani Usman dari Universitas Hasanuddin—dimuat dalam Jurnal Neo Societal (Vol. 9, No. 4, 2024)—menunjukkan bahwa media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan identitas sosial anak melalui proses interaksi simbolik. 

Di dunia maya, anak-anak secara aktif membentuk citra diri ideal demi mendapatkan pengakuan dan validasi dari teman sebaya. Namun, di balik layar ponsel itu, muncul tekanan sosial yang tidak ringan: tuntutan untuk selalu tampil sempurna justru menimbulkan kecemasan dan membuat harga diri anak menjadi rentan.

Penelitian ini juga menyoroti adanya ketegangan antara nilai-nilai budaya lokal dan norma global yang diinternalisasi lewat media sosial. Di Indonesia, nilai kolektivitas dan kebersamaan masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Namun, media sosial sering kali mendorong ekspresi diri yang lebih individualistik—sebuah pendekatan yang kadang tidak sejalan dengan budaya komunitas yang dianut secara turun-temurun.

Akibatnya, banyak anak mengalami kebingungan dalam menavigasi identitas mereka antara dunia nyata dan dunia maya. Ketidakseimbangan ini dapat memengaruhi rasa percaya diri, bahkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

Temuan ini memperkuat argumen bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi cara anak berpikir dan belajar, tetapi juga turut membentuk cara mereka memandang diri sendiri serta cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial. Karena itu, peran orang tua dan pendidik menjadi sangat penting—bukan untuk melarang, tetapi untuk membimbing anak dalam membangun citra diri yang sehat dan seimbang di era digital.

Peran Orang Tua dan Institusi

Ada beberapa usulan solusi untuk masalah ini. Pertama, pendidikan literasi digital. Salah satu solusi utama adalah mengajarkan anak cara menggunakan media sosial secara bijak. Literasi digital harus menjadi bagian dari kurikulum sekolah, sehingga anak-anak dapat memahami bagaimana mengelola waktu mereka di dunia digital dan membedakan informasi yang valid dari yang menyesatkan dan hoaks.

Pemikiran John Dewey, seorang filsuf pragmatisme yang sangat kritis terhadap lingkungan sosial dan bidang pendidikan, terutama tentang pendidikan berbasis pengalaman sangat relevan dalam konteks ini. Dalam karyanya Experience and Education (1938), Dewey berpendapat bahwa anak-anak belajar paling efektif melalui interaksi sosial dan pengalaman langsung, bukan hanya dengan menerima informasi secara pasif.

BACA JUGA:Melindungi Anak-anak dari Bahaya Media Sosial

Oleh karena itu, literasi digital harus diajarkan dengan pendekatan yang interaktif, seperti diskusi, simulasi, dan proyek berbasis masalah, agar anak-anak benar-benar memahami dampak media sosial terhadap kehidupan mereka.

Kedua, penerapan regulasi dan pengawasan. Sekolah perlu menerapkan kebijakan atau peraturan yang membatasi penggunaan ponsel selama jam belajar. Selain itu, orang tua harus lebih aktif dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak mereka, termasuk menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial.

Dalam konteks ini, Lev Vygotsky (1978), seorang psikolog dan filsuf Rusia, menawarkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), yang menunjukkan bahwa anak-anak belajar paling efektif ketika mereka dibimbing oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih berpengalaman. Pengawasan orang tua dan guru terhadap penggunaan media sosial bukan hanya soal pembatasan, tetapi juga tentang membimbing anak-anak dalam memahami bagaimana teknologi dapat digunakan secara produktif untuk pembelajaran dan pengembangan diri.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan