Melampaui PDB, Mencari Indikator Kesejahteraan Sejati
Ilustrasi. Perajin membuat angklung bambu di Kampung Angklung, Panyingkiran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kementerian BUMN mengatakan pelaku UMKM berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 62,55 persen-Adeng Bustomi/agr-ANTARA FOTO
BACA JUGA:Agar Kopdes Merah Putih Tak Menjadi 'Momok' Baru
PDB diperkenalkan oleh Simon Kuznets pada 1930-an untuk mengukur output ekonomi Amerika Serikat. Meskipun alat ini bermanfaat untuk mengatasi depresi ekonomi kala itu, bahkan Kuznets memperingatkan bahwa PDB bukan ukuran kesejahteraan. Dalam presentasinya di Kongres AS tahun 1934, ia menyatakan, “Kesejahteraan suatu bangsa tidak dapat disimpulkan dari angka pendapatan nasional.”
Ekonom lingkungan seperti Herman Daly menekankan pentingnya steady-state economy yaitu ekonomi yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Dalam pandangan ini, ukuran seperti PDB tidak cukup. Kita membutuhkan indikator yang mencerminkan kesejahteraan ekologis, sosial, dan manusia.
PDB tak lagi cukup?
PDB hanya menghitung nilai barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Tetapi ia tidak membedakan apakah nilai tersebut dihasilkan dari pembangunan sekolah atau dari polusi industri. PDB juga tidak memperhitungkan bagaimana kekayaan itu dibagi, apakah hanya dinikmati oleh segelintir elite atau menjangkau seluruh masyarakat.
Di Indonesia, PDB per kapita memang terus meningkat. Namun, angka itu menyamarkan fakta bahwa sebagian besar pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi di Pulau Jawa dan dinikmati oleh kalangan menengah atas. Sementara itu, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi masih bergelut dengan kemiskinan struktural, infrastruktur minim, dan akses pendidikan yang terbatas.
BACA JUGA:Mengawal Momentum Surplus APBN April 2025
Dalam konteks ini, PDB lebih menggambarkan jumlah uang yang beredar, bukan kualitas hidup rakyat.
Beberapa negara dan institusi global telah mengembangkan indikator-indikator alternatif untuk melengkapi atau bahkan menggantikan PDB. Beberapa di antaranya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Genuine Progress Indicator (GPI), Green GDP, Gross National Happiness (GNH), Indeks Kemakmuran Bersama (Shared Prosperity Index – SPI), dan Indeks Kemajuan Sosial (Social Progress Index – SPI).
IPM dikembangkan UNDP dan mengukur tiga aspek utama yaitu kesehatan (harapan hidup), pendidikan (lama sekolah), dan standar hidup (PDB per kapita dalam PPP). Indeks ini lebih manusiawi karena fokus pada kapabilitas dasar manusia, bukan sekadar output ekonomi.
Indonesia mencatat IPM sebesar 75,02 pada 2025, naik dari tahun-tahun sebelumnya, namun disparitas regionalnya tinggi. DKI Jakarta mendekati angka 85, sedangkan Papua dan NTT masih di bawah 65. Menggunakan IPM sebagai panduan kebijakan mendorong pembangunan yang lebih merata antarwilayah.
GPI mengoreksi PDB dengan menambahkan nilai kerja rumah tangga dan relawan, serta mengurangkan biaya sosial seperti kejahatan, polusi, stres kerja, dan kerusakan lingkungan.
BACA JUGA:Kehidupan Kedua Sampah Plastik jadi Furnitur Cantik
Jika Indonesia menghitung GPI, pertumbuhan dari sektor pertambangan dan sawit kemungkinan akan tereduksi karena tingginya biaya sosial dan ekologis. Ini dapat mendorong pengambilan kebijakan yang lebih hati-hati, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan jangka panjang.
Alternatif lain adalah konsep PDB Hijau yang menghitung kembali PDB dengan memperhitungkan degradasi sumber daya alam dan biaya polusi. Indonesia, sebagai negara megabiodiversitas, sangat diuntungkan dengan pendekatan ini. Contohnya, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) harus dinilai bukan hanya dari sisi nilai tambah ekonominya, tapi juga dari dampak ekologis terhadap hutan Kalimantan. Sayangnya, tantangan teknis dalam valuasi sumber daya alam masih menjadi kendala utama penerapan Green GDP secara penuh.
Kemudian, GNH yang dikembangkan oleh Bhutan memasukkan faktor psikologis, budaya, lingkungan, dan tata kelola yang baik sebagai pilar kesejahteraan. Meskipun indikator ini bersifat subjektif, ia mengingatkan kita bahwa kebahagiaan dan makna hidup adalah tujuan akhir dari pembangunan. Bagi Indonesia yang kaya akan nilai gotong-royong, spiritualitas, dan keragaman budaya, pendekatan GNH bisa diadaptasi untuk mengukur harmoni sosial, kepuasan hidup, dan keseimbangan kerja–keluarga.