Trump, Lawatan Teluk dan Genosida Gaza: Antara Stabilitas dan Ambisi
Presiden AS Donald Trump-Xinhua-ANTARA
Bila AS benar-benar tulus ingin dilihat sebagai pihak yang betul-betul melakukan peran yang konstruktif guna mewujudkan perdamaian yang komprehensif, maka Negeri Paman Sam itu harus bertindak sebagai mediator yang konsisten dan netral, serta berhenti memilih satu negara berdasarkan favoritisme atau aliansi yang telah berjalan lama.
AS juga harus mendukung tatanan internasional berbasis aturan, bukan berdasarkan prinsip transaksional berdasarkan siapa pihak yang membayar lebih banyak atau membeli lebih banyak senjata. Dalam konteks Palestina, AS harus sepenuhnya menghentikan pengiriman senjata ke Israel yang membantu terjadinya genosida di Gaza.
Selain itu, AS harus mendorong langkah nyata untuk mendukung Solusi Dua Negara, dengan cara meminta akuntabilitas pertanggungjawaban seperti menghentikan perluasan pemukiman oleh Israel serta mendukung pembangunan ekonomi di wilayah Palestina, bukan hanya bantuan keamanan.
Perlu pula mendukung langkah rekonstruksi Gaza serta pembangunan kembali Suriah, Irak, dan Yaman, tentu saja dengan masukan pihak lokal, legitimasi internasional, serta melakukannya berdasarkan tata kelola inklusif dan berinvestasi terutama dalam sektor pendidikan, infrastruktur, hingga energi hijau.
Dengan kata lain, investasi yang penting dilakukan adalah dalam hal hubungan antarmasyarakat seperti pertukaran pendidikan, kerja sama teknologi, serta perubahan iklim. Semua langkah itu juga harus dilakukan bukan dalam kerangka dominasi, tetapi sebagai mitra yang berdialog dengan sehat dan rasional.
Kunci dari semua hal tersebut, yang perlu dipelajari benar-benar dan meresap oleh pemerintahan AS termasuk periode kepresidenan Trump saat ini, adalah adanya konsistensi, kredibilitas, dan kerendahan hati. (antara)
Oleh: M Razi Rahman