Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Menantikan Kejutan Luis Enrique Lagi

Pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique memberikan instruksi di pinggir lapangan saat menghadapi Arsenal pada pertandingan leg kedua babak semifinal Liga Champions di Parc des Princes, Paris, Kamis (08/05/2025)-FRANCK FIFE-ANTARA/AFP

Kejutan besar melanda Catalunya, sosok pelatih yang sempat diragukan kapasitasnya namun mampu membawa Blaugrana mengamankan gelar treble untuk kedua kalinya sepanjang sejarah klub, setelah sebelumnya sempat dilakukan oleh Joseph "Pep" Guardiola.

Sembilan tahun kemudian tepatnya 5 Juli 2023, pria Spanyol itu tiba ke Parc des Princes, Paris untuk menjadi juru taktik Paris Saint-Germain.

Dengan perkenalan sebagai pelatih yang terasa kaku saat Enrique berujar "Je m'appelle Luis Enrique."

Publik Parc des Princes langsung memberikan beban berat kepadanya, setelah sekian banyak pelatih tenar sekaliber Carlo Ancelotti, Laurent Blanc, Unai Emery, Thomas Tuchel, hingga Mauricio Pochettino tak mampu membawa PSG digdaya di tanah Eropa dengan menjuarai Liga Champions yang telah diidamkan.

BACA JUGA:Meninjau Ulang Kualitas Pekerjaan di Indonesia

Formula di PSG

Enrique tetaplah Enrique. Pelatih yang mempunyai formula khusus untuk bisa memaksimalkan potensi dari setiap lini.

Di musim 2024-2025, PSG yang terkenal glamor dengan dihuni pemain-pemain bintang sekaliber Neymar, Lionel Messi, Kylian Mbappe, hingga Sergio Ramos seperti kehilangan figur tersebut.

Tak lain tak bukan pembajakan Real Madrid atas Kylian Mbappe pada bursa transfer musim panas lalu membuat pihak manajemen PSG kini tak berfokus membentuk skuad mewah.

Tanpa dihuni pemain berlabel bintang, justru Enrique mampu memaksimalkan potensi pemain-pemain berpengalaman yang dipadukan dengan pemain muda potensial.

Kuncinya ada di ruang ganti yang mampu dikendalikan oleh mantan pelatih timnas Spanyol tersebut.

BACA JUGA:Sinyal Kuat dari Pemilu Australia dan Kanada: Trumpisme Kian Dijauhi?

Pemain yang bermasalah dengannya siap-siap untuk angkat kaki atau tak dimasukkan dalam skema permainan seperti yang terjadi pada Neymar ataupun Ousmane Dembele yang pernah mencicipi ketegasannya.

PSG musim ini diibaratkan tim sekawanan lebah. Begitu terorganisir, efektif dan punya daya membunuh.

Tugas antar pemain PSG musim ini tak membiarkan lawan mendapatkan ruang bebas. Saling bahu-membahu menutup ruang dan melancarkan serangan secepat mungkin.

Di Liga Champions, PSG kini mencatatkan total 33 gol dengan rerata 2,1 gol per laga. Les Parisiens merupakan tim yang punya insting mengerikan di area kotak penalti, dengan mencetak 28 gol diantara 33 gol di dalam area kotak penalti.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan