Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Sinyal Kuat dari Pemilu Australia dan Kanada: Trumpisme Kian Dijauhi?

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyampaikan pandangannya dalam KTT ke-3 ASEAN-Australia di Jakarta, Kamis (7/9/2023)-Media Center KTT ASEAN 2023/Akbar Nugroho Gumay/foc-ANTARA FOTO

Namun, setelah Presiden Trump memberlakukan tarif keamanan nasional terhadap Kanada dengan dalih dugaan keterlibatan Kanada dalam perdagangan fentanil, serta beberapa kali pernyataan Trump yang ingin membuat Kanada menjadi negara bagian ke-51 Kanada, ternyata dapat mengubah prediksi tersebut.

BACA JUGA:Hari Buruh 2025: Ketika Jurnalis Juga Harus Mengucap Selamat Tinggal

Kemudian, setelah Mark Carney terpilih sebagai pemimpin Liberal serta menjadi PM menggantikan Justin Trudeau, hanya delapan pekan silam, ternyata Partai Liberal memperoleh keunggulan yang konsisten dalam jajak pendapat, yang mereka raih dalam kemenangan pemilu pekan lalu.

Dalam kampanye, Carney juga dengan tegas dan lantang menyatakan bahwa "Presiden Trump telah menghancurkan ekonomi global... Kepemimpinan Amerika dalam ekonomi global telah berakhir." Meski demikian, kantor perdana menteri Kanada setelah pemilu berlangsung juga menyatakan bahwa Carney dan Trump dijadwalkan akan berbicara dan sepakat bertemu dalam waktu dekat.

Sebenarnya tidak hanya di Kanada dan Australia, pemilu sebelumnya di negara Anglo-Saxon lainnya yaitu Inggris Raya pada Juli 2024 juga menghasilkan kemenangan bagi Partai Buruh Inggris pimpinan Keir Starmer.

Kemenangan Starmer dan Partai Buruh juga diduga karena pemilih tidak suka dengan oposisi Konservatif yang dinilai gaya kebijakannya mirip dengan Trumpisme.

Progresif sentris

Kesamaan antara Carney, Starmer, dan Albanese secara umum adalah memiliki pandangan dunia berideologi sosial demokrat atau progresif sentris, yang berbeda dengan Trumpisme yang kerap disebut sebagai konservatif nasionalis-populis.

BACA JUGA:Lindung Nilai Multilevel di Era Ketidakpastian

Berbeda dengan Trumpisme yang berpandangan unilateral dan transaksional, ketiga sosok progresif sentris itu berpegang teguh kepada multilateralisme, mendukung ekonomi pasar berjaring pengaman sosial kuat, serta meyakini terhadap kerja sama internasional dalam mengatasi permasalahan perubahan iklim, serta memprioritaskan inklusivitas.

Memang belum tentu bahwa ketiga sosok progresif itu akan memiliki kebijakan ke depan yang berbeda dengan Trump, tetapi setidaknya mereka harus menunjukkan bahwa itu dapat dilakukan.

Perlu diingat bahwa Trump memenangkan jutaan suara di AS meskipun dirinya tidak menunjukkan banyak empati atau kompetensi dalam pengertian tradisional, sehingga politik saat ini dinilai bukan hanya tentang kebijakan atau kompetensi — tetapi mengenai persoalan identitas, emosi, dan kekuasaan.

Trump dalam kampanyenya dapat memanfaatkan rasa marah, ketakutan, dan kebanggaan nasional, sehingga melontarkan janji-janji untuk mengatasi rasa frustrasi para pemilih. Meski hingga saat ini, janji yang paling signifikan seperti akan menurunkan harga mulai dari "hari pertama" belum bisa terealisasi dengan baik.

BACA JUGA:'Indonesia First', Berdikari di Tengah Guncangan Dunia

Bahkan, pada saat ini kondisi perekonomian global juga dalam kondisi ketidakstabilan yang sangat tinggi, terutama hasil dari kebijakan tarif Trump.

Untuk itu, pemimpin kalangan progresif sentris memang benar dalam menjadikan empati dan kompetensi sebagai fondasi, tetapi kedua hal itu perlu dipadukan dengan pesan yang menghubungkan dengan pemilih secara emosional (tetapi tidak terjebak dengan isu-isu nasionalis-populis).

Disrupsi harapan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan