Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Lindung Nilai Multilevel di Era Ketidakpastian

Warga menunjukkan emas Antam yang dibelinya di Butik Emas Logam Mulia Antam kompleks DP Mall, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/4/2025)-Aprillio Akbar/rwa/aa-ANTARA FOTO

Secara teoretis, pendekatan ini berakar pada Teori Manajemen Risiko Portofolio Modern oleh Harry Markowitz (1952), yang menekankan diversifikasi untuk mengurangi risiko total. Namun dalam skenario ketidakpastian ekstrem, teori yang lebih relevan adalah Teori Lindung Nilai Ketidakpastian Tinggi, yang menyarankan penggunaan aset fisik dan perlindungan di luar sistem keuangan biasa.

BACA JUGA:Haji Ilegal dan Bahaya Jalan Pintas dalam Ibadah

Selain itu, Teori Ketidakpastian Knightian oleh Frank Knight membedakan antara risiko terukur (yang bisa di-hedging secara biasa) dan ketidakpastian yang tidak dapat diukur, yang menuntut pendekatan non-konvensional.

Di negara maju, seperti Amerika Serikat, lindung nilai sudah menjadi standar operasional. Perusahaan multinasional, seperti Boeing, Apple, dan Chevron, rutin melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi mata uang, suku bunga, dan harga komoditas menggunakan kombinasi options dan swaps.

Beberapa dana lindung nilai besar, seperti Bridgewater Associates, menggunakan portofolio all weather yang secara eksplisit didesain untuk bertahan dalam semua kondisi pasar, sebuah contoh adaptasi hedging lintas tingkat.

Di China, perusahaan-perusahaan besar yang berorientasi ekspor juga menggunakan lindung nilai terhadap perubahan nilai tukar Yuan untuk menjaga daya saing produk mereka. Pemerintah China, bahkan mendorong penggunaan produk derivatif domestik di bursa Shanghai Futures Exchange untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak global.

Di Swiss, masyarakat sudah lama menggunakan emas dan real estate sebagai bagian dari strategi lindung nilai tingkat tiga, mengingat sejarah panjang ketidakpastian geopolitik di Eropa. Bank Swiss juga menawarkan rekening emas fisik kepada nasabah.

BACA JUGA:​Hari Buku Sedunia: Membaca untuk Menyembuhkan

Ketika hiperinflasi menghancurkan nilai bolivar, warga Venezuela mengandalkan mata uang kertas, seperti dolar AS secara fisik, membeli tanah pertanian, atau menyimpan emas batangan kecil untuk mempertahankan nilai kekayaan mereka.

Aplikasi di Indonesia

Di Indonesia, praktik lindung nilai (hedging) semakin mendapat perhatian, terutama di sektor perbankan, ekspor-impor, dan industri berbasis komoditas, seperti pertambangan dan energi. Misalnya, beberapa perusahaan besar, seperti PT Pertamina dan PT Freeport Indonesia, melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi harga minyak, gas, dan komoditas logam melalui kontrak derivatif, seperti futures, options, dan swap.

Di sektor keuangan, Bank Indonesia sejak 2014 mendorong penggunaan instrumen swap lindung nilai untuk melindungi risiko nilai tukar bagi korporasi yang memiliki kewajiban valuta asing.

Dalam konteks geoekonomi saat ini, di mana ketegangan antara kekuatan besar, seperti Amerika Serikat dan China menyebabkan volatilitas pasar global, upaya hedging di Indonesia menjadi semakin penting.

BACA JUGA:Mengobati Luka Menganga dalam Pendidikan Dokter Spesialis

Perang dagang, disrupsi rantai pasok, serta kenaikan suku bunga global mempengaruhi nilai tukar rupiah, harga komoditas, dan arus investasi, sehingga risiko keuangan meningkat.

Teori dasar dari hedging mengacu pada konsep minimasi risiko dalam teori portofolio modern (Harry Markowitz) dan prinsip asimetri informasi (Akerlof). Lindung nilai bertujuan mengurangi ketidakpastian arus kas masa depan akibat perubahan variabel pasar, seperti harga, suku bunga, atau nilai tukar, sehingga mendukung stabilitas finansial perusahaan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan