Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Nasib RI di Pusaran Perang Tarif AS-China

Ilustrasi: Nasib RI di Pusaran Perang Tarif AS-China--(Antara)

Perang tarif AS-China berefek tak langsung pada Indonesia lewat rantai pasokan global. Tarif tinggi AS untuk produk China membuat ekspor tidak langsung Indonesia turun USD 300 juta, mengingat banyak barang Indonesia diekspor ke AS lewat China.

Efek domino ini juga menekan permintaan global untuk produk Asia Tenggara. Lebih parah lagi, tarif tambahan AS untuk elektronik dan tekstil kian melemahkan daya saing produk Indonesia, memukul sektor manufaktur yang bergantung pada ekspor.

Perang tarif AS-China ikut menggoyang ekonomi Indonesia. Ketidakpastian global membuat dolar AS jadi aset safe haven, menekan rupiah hingga Rp16.340 per dolar AS per Maret 2025. Depresiasi ini bikin biaya impor barang modal dan bahan baku melonjak, memicu inflasi.

BACA JUGA:Ramadhan: Momentum Tebar Kebaikan, Tinggalkan Keburukan

Bank Indonesia pun terjebak dilema: menurunkan suku bunga demi pertumbuhan ekonomi atau mempertahankan stabilitas rupiah agar arus modal tak kabur. Sementara itu, tarif tinggi AS yang mendongkrak harga barang impor makin memperburuk inflasi, yang ditaksir naik saat Ramadan dan Idul Fitri.

Indonesia kesulitan menarik investasi asing di tengah persaingan ketat dengan Vietnam dan Thailand. Vietnam sukses menarik perusahaan multinasional yang hengkang dari China berkat biaya tenaga kerja murah, insentif pajak menarik, dan logistik yang efisien. Sementara, Thailand makin kokoh sebagai hub manufaktur Asia Tenggara.

Sebaliknya, Indonesia terhambat birokrasi berbelit, regulasi rumit, dan infrastruktur yang belum optimal meski punya potensi dengan populasi dan sumber daya alam melimpah. Tanpa reformasi ekonomi dan percepatan penguatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), ambisi Indonesia jadi pusat investasi asing bisa jadi tinggal mimpi.

Strategi Indonesia

Indonesia butuh kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya saing ekspor di tengah tekanan global. Insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance bagi industri berorientasi ekspor sudah diterapkan, ditambah pelatihan vokasi untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja.

Meski neraca perdagangan surplus USD 3,45 miliar pada Januari 2025, impor bahan baku masih mendominasi. Pengembangan industri substitusi impor jadi pilihan, tapi tanpa reformasi masif, ketergantungan pada produk luar sulit diputus.

BACA JUGA:Adaptasi Drainase Kota Kuno untuk Atasi Banjir Bekasi

Menuju visi Indonesia Emas 2045, pemerintah fokus pada reformasi regulasi, peningkatan SDM, dan investasi infrastruktur. Penyederhanaan perizinan lewat OSS serta penguatan KEK idealnya menarik lebih banyak investasi asing. Di sisi lain, peningkatan kualitas SDM digencarkan melalui pendidikan, pelatihan vokasional, dan Kartu Prakerja.

Investasi infrastruktur jadi prioritas dengan anggaran Rp400,3 triliun dalam RAPBN 2025 untuk membangun jalan tol, pelabuhan, dan bandara. Meski ambisius, tanpa pengawasan, semua ini berisiko jadi proyek besar yang hasilnya setengah matang.

Peluang bagi Indonesia

Perang tarif AS-China memberi peluang bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada kedua negara tersebut. Diversifikasi pasar ekspor jadi strategi dengan meluaskan jangkauan ke Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Langkah ini untuk meredam risiko dari ketidakpastian geopolitik.

Pemerintah sudah mendorongnya lewat perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan promosi produk unggulan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan tekstil di pameran internasional. Kendati, tanpa peningkatan daya saing dan efisiensi, upaya ini bisa saja mentok di tengah jalan.

Perang tarif AS-China membuat kekosongan di pasar global yang bisa dimanfaatkan Indonesia. Produk seperti tekstil, alas kaki, elektronik ringan, dan makanan olahan peluangnya besar mengisi celah ini, terlebih di negara-negara yang sebelumnya bergantung pada impor dari kedua raksasa ekonomi itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan