Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Makin Ramai, Aplikasi Chat Ini Disebut Pembunuh WhatsApp

Makin Ramai, Aplikasi Chat Ini Disebut Pembunuh WhatsApp-ist/ai-

Rata-rata waktu penggunaan Telegram tercatat 3 jam 45 menit per bulan. Angka ini masih tertinggal jauh dibanding WhatsApp yang digunakan hingga 17 jam 6 menit per bulan, berdasarkan laporan DemandSage.

Meski tumbuh pesat, perjalanan Telegram tak selalu mulus. Saat melaporkan 900 juta pengguna aktif pada 2024, Durov mengaku perusahaan menghadapi tekanan dari banyak negara terkait pembatasan arus informasi.

BACA JUGA:Main Game Bisa Dapat Saldo DANA? Ini Cara Kerja Aplikasi Penghasil Uang Furry Blast

BACA JUGA:Kemkomdigi Ajukan Penghapusan 7 Aplikasi Diduga Jual Data Nasabah Leasing

Bahkan, Durov sempat ditahan otoritas Prancis pada Agustus 2024. Ia dituduh terlibat dalam distribusi konten ilegal, mulai dari pornografi anak, narkoba, hingga perangkat lunak peretasan yang beredar di Telegram.

Tak sampai sepekan, Durov dibebaskan dengan status tahanan bersyarat dan diwajibkan membayar uang jaminan sebesar 5 juta euro. Sejak kejadian itu, Telegram mulai meningkatkan sistem moderasi konten di dalam platform.

Meski begitu, Durov tetap menegaskan sikap netral Telegram dalam konflik geopolitik. Saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Telegram menjadi salah satu sumber informasi yang tidak menyaring arus konten secara ketat.

Transparansi ini di satu sisi diapresiasi, namun di sisi lain juga memicu maraknya disinformasi. Durov menegaskan sistem enkripsi Telegram dirancang untuk melindungi privasi pengguna dari intervensi pihak mana pun, termasuk pemerintah.

BACA JUGA:Tips Dapat Saldo DANA dari Aplikasi Penghasil Uang Cashbucks, Cuan Sambil Main Game

BACA JUGA:Tanpa Modal! Cara Dapat Saldo DANA Gratis dari Aplikasi Penghasil Uang AttaPoll, Cukup Isi Survei

“Saya lebih memilih kebebasan daripada tunduk pada perintah siapa pun,” ujar Durov dalam pernyataannya.

Ia juga mengungkap adanya upaya dari berbagai pihak untuk melemahkan enkripsi Telegram. Salah satunya diduga datang dari FBI yang disebut pernah mencoba merekrut engineer Telegram untuk membuka celah keamanan platform tersebut. Tuduhan ini tidak pernah dikomentari oleh FBI.

Menurut Durov, tekanan terhadap kebebasan berekspresi tidak hanya datang dari pemerintah. Tantangan justru banyak muncul dari raksasa teknologi seperti Apple dan Alphabet.

“Dua platform itu bisa menyensor apa pun yang Anda baca dan mengakses hampir seluruh isi smartphone Anda,” tandasnya.***

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan