Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

3 Nama Besar di Balik Dunia Debt Collector Indonesia: Siapa Paling Ditakuti?

Ilustrasi: 3 Nama Besar di Balik Dunia Debt Collector Indonesia, Siapa Paling Ditakuti?--(freepik)

Awalnya dikenal sebagai preman pasar, Hercules membangun pengaruh besar di berbagai wilayah Jakarta. Senjata tajam menjadi ciri khasnya, dan kehadirannya di satu lokasi saja sudah cukup membuat orang enggan melawan.

Hercules kemudian mengembangkan kelompok sendiri yang mayoritas berisi orang Timor. Dalam perkembangannya, kelompok ini tak hanya menagih utang, tetapi juga terlibat dalam pengamanan lahan dan sengketa tanah—pekerjaan yang sangat diminati selama masa kekacauan agraria di Jakarta.

Basri Sangaji: Pengadu Nasib dari Haruku yang Jadi Legenda Jalanan

Berbeda dengan John Kei dan Hercules, Basri Sangaji datang ke Jakarta dengan tujuan mengadu nasib. Namun, langkahnya justru membawanya masuk ke dalam dunia yang keras.

BACA JUGA:Aturan Baru Penagihan Pinjol 2025: Debt Collector Wajib Patuhi Ketentuan dari OJK

Ia membentuk jaringan sendiri, merekrut orang-orang asal Maluku, khususnya dari Pulau Haruku. Kelompok Basri dikenal tak kalah tangguh dan sering terlibat konflik dengan kelompok lain, termasuk kelompok Hercules.

Dalam perjalanan waktu, tiga nama ini membentuk dinamika kekuasaan yang saling bersaing dan bersinggungan. Tak jarang, konflik berujung pada pertumpahan darah.

Tahun 2002, pertikaian antara kelompok Hercules dan Basri memuncak. Bahkan, Hercules pernah menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Basri.

Dari Preman ke Penagih Utang Legal

Memasuki dekade 1990-an, para mantan preman ini perlahan bertransformasi. Saat krisis moneter 1998 melanda, banyak bank mengalami kebangkrutan dan meninggalkan kredit macet.

BACA JUGA:Waspada! Debt Collector Pinjaman Online Ilegal Bisa Teror Keluarga Anda, Kenapa?

Situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tersebut untuk menawarkan jasa penagihan utang kepada pihak swasta.

Selain penagihan, mereka juga mulai dikenal sebagai makelar tanah. Banyak perusahaan properti dan swasta yang mempekerjakan kelompok-kelompok ini untuk mengamankan aset mereka dari sengketa atau pengambilalihan ilegal. Legalitasnya memang sering abu-abu, tetapi efektivitasnya di lapangan tak bisa disangkal.

Sejak saat itu, bisnis debt collector menjelma menjadi gurita yang memiliki banyak cabang usaha, bahkan masuk ke dalam struktur formal di beberapa perusahaan keamanan dan keuangan.

Anak buah dari ketiga raja tersebut banyak yang mendirikan agensi sendiri dan memperluas pengaruh hingga ke luar Jakarta.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan