6 Tanda Kamu Kena Brain Rot Akibat Media Sosial, Waspadai Jika Mengalaminya
Ilustrasi - fenomena brain rot istilah populer yang menggambarkan penurunan fungsi otak akibat konsumsi konten digital secara berlebihan--freepik
BACA JUGA:Rahasia Sehat Alami: 9 Manfaat Kesehatan Kombinasi Kunyit dan Madu yang Tak Boleh Dilewatkan
Ketika otak terus dibanjiri informasi dangkal, kemampuannya untuk memproses data secara mendalam pun menurun. Ini terlihat dari lambatnya respons saat harus mengambil keputusan, menjawab pertanyaan, atau menghadapi masalah yang membutuhkan pemikiran kritis.
Fenomena ini membuatmu merasa seperti otak “lemot” atau tidak bisa diajak bekerja sama. Kamu tahu apa yang harus dilakukan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Beban informasi yang datang silih berganti tanpa filter membuat otak kelelahan secara kognitif. Jika kamu sering merasa bingung tanpa sebab yang jelas, mungkin ini saatnya memberi otak ruang bernapas.
4. Kehilangan Minat terhadap Aktivitas yang Dulu Kamu Nikmati
Brain rot juga membuatmu kehilangan motivasi untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya kamu sukai. Misalnya, kamu dulu suka menonton film, membaca buku, atau berolahraga. Namun kini, kegiatan itu terasa membosankan dan kamu lebih memilih membuka ponsel meski sedang bersama teman atau keluarga.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah tidak lagi menikmati momen offline. Bahkan ketika menonton film favorit pun, tangan tetap sibuk membuka notifikasi atau mengecek media sosial. Ketika perhatianmu tak bisa lepas dari layar, artinya kamu mulai kehilangan kontrol atas kebiasaan digitalmu sendiri.
5. Tidak Sadar Waktu Berlalu Begitu Saja
Salah satu dampak nyata dari konsumsi digital berlebihan adalah hilangnya kontrol terhadap waktu. Kamu mungkin hanya berniat membuka media sosial selama lima menit, tapi tanpa disadari sudah dua jam berlalu. Aktivitas lain yang lebih penting pun terabaikan, termasuk pekerjaan, belajar, atau sekadar tidur cukup.
BACA JUGA:7 Minuman Alami yang Terbukti Bantu Jaga Kesehatan Hati, Nomor 4 Tak Disangka-sangka
BACA JUGA:Mengenal Popcorn Lung, Penyakit Paru yang Dipicu Rokok Elektrik atau Vape, Gejalanya Mirip Asma
Fenomena ini berbahaya karena membuatmu kehilangan produktivitas secara perlahan. Waktu yang terbuang tidak terasa, namun dampaknya akan menumpuk. Semakin sering kamu membiarkan waktu berlalu tanpa arah, semakin besar kemungkinan kamu masuk ke fase digital burnout.
6. Cemas dan Gelisah Saat Jauh dari Ponsel
Tanda terakhir, dan mungkin yang paling serius, adalah munculnya kecemasan atau rasa tidak nyaman saat kamu tidak menggenggam ponsel. Ketika kamu merasa frustasi hanya karena tidak bisa membuka Instagram, Twitter, atau TikTok, itu artinya otakmu sudah menciptakan ketergantungan terhadap stimulasi digital.
Kondisi ini bahkan bisa memicu stres atau rasa kesepian jika kamu terlalu lama terputus dari dunia maya. Internet seolah menjadi satu-satunya cara untuk merasa tenang atau menghindari tekanan emosional. Padahal, ini hanyalah bentuk pelarian yang mengaburkan kenyataan dan menumpulkan kepekaan terhadap pengalaman nyata.
Jika kamu sudah mulai merasakan beberapa dari tanda-tanda di atas, itu berarti sudah saatnya untuk melakukan detoks digital.