Beras Premium Tak Bisa Dinilai dari Tampilan, Ini Cara Valid Cek Mutunya
Ilustrasi beras premium--Freepik.com
BELITONGEKSPRES.COM - Perum Bulog menegaskan bahwa cara paling akurat untuk mengetahui kualitas beras premium bukan sekadar dari tampilannya, tetapi melalui uji laboratorium. Pasalnya, secara visual, beras yang baik dan oplosan sulit dibedakan di pasaran.
General Manager Unit Bisnis Industri Perum Bulog, Andy Nugroho, menyampaikan bahwa pengujian laboratorium dapat memberikan informasi detail, salah satunya dari tingkat keasaman atau pH beras. Jika pH beras tercatat kurang dari angka 6, maka besar kemungkinan beras tersebut sudah tersimpan terlalu lama di gudang. “Ketika keasamannya lebih dari batas normal, bisa dipastikan itu beras lama, tidak lagi fresh,” jelas Andy saat ditemui di Jakarta, Kamis 17 Juli.
Ia juga menambahkan, selain pH, ada parameter lain yang dapat dianalisis dari hasil laboratorium. Dengan data tersebut, masyarakat bisa mendapatkan kepastian apakah beras yang mereka beli benar-benar premium atau justru hasil oplosan.
Di tengah temuan pelanggaran yang diungkap Satgas Pangan Dittipideksus Bareskrim Polri, penting bagi konsumen untuk lebih waspada. Satgas menemukan empat produsen beras nasional yang diduga melanggar aturan mutu dan takaran, setelah pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah sampel di berbagai daerah, termasuk Aceh, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Jabodetabek.
BACA JUGA:212 Merek Beras Diduga Bermasalah, DPR Minta Pemerintah Tegas Usut Produsen Oplosan
BACA JUGA:Mentan Pastikan Tindak Tegas Praktik Beras Oplosan, Potensi Kerugian Capai Rp99 Triliun
Di sisi lain, Andy memastikan bahwa beras premium milik Bulog yang beredar di ritel modern telah melalui proses quality control ketat. Beras-beras tersebut dikemas menggunakan mesin modern dan lolos uji kualitas, sehingga aman untuk dikonsumsi. Beberapa merek unggulan yang didistribusikan di bawah brand B-Food antara lain Setra Ramos dan Slyp Super.
Pemeriksaan dan pengawasan ketat terhadap peredaran beras premium di pasar menjadi penting, terlebih dengan adanya praktik oplosan yang mencederai kepercayaan masyarakat. Konsumen diimbau untuk lebih teliti, dan jika perlu, hanya memilih produk yang sudah terjamin mutunya oleh lembaga resmi. (jpc)