Reforma Agraria Babel Disorot, Gubernur Minta GTRA Lebih Optimal
Gubernur Babel Hidayat Arsani menerima kunjungan kerja Komisi II DPR RI di Pangkalpinang, Rabu (22/4/2026)-Babel Pos-
BACA JUGA:Edi Nasapta Apresiasi Penerbangan Internasional Perdana Scoot ke Belitung
Di hadapan Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, Gubernur Hidayat mengungkapkan bahwa dirinya baru sekitar satu tahun menjabat.
Ia berharap kunjungan kerja DPR RI dapat memberikan gambaran nyata kondisi agraria di Bangka Belitung. Menurutnya, masih banyak persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Mulai dari ketimpangan penguasaan lahan hingga potensi konflik yang belum sepenuhnya terselesaikan. Kunjungan Komisi II DPR RI dinilai sebagai momentum penting.
Selain menjalankan fungsi pengawasan, DPR RI juga diharapkan mampu menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, menegaskan bahwa persoalan agraria tidak bisa dipandang sempit. Isu ini tidak hanya menyangkut legalitas kepemilikan, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial.
BACA JUGA:Kasus Pencurian Terekam CCTV, Ibu dan Anak Bobol Rumah Tetangga hingga 5 Kali
“Kalau tanah masyarakat bermasalah, maka rasa memiliki dan kecintaan terhadap tanah air juga akan terganggu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa reforma agraria harus benar-benar menghadirkan keadilan bagi rakyat. Aria Bima juga mendorong agar GTRA di tingkat provinsi dan kabupaten lebih aktif.
Setiap tahun harus ada capaian yang jelas dan terukur agar program tidak berjalan stagnan. Selain itu, percepatan PTSL menjadi perhatian utama.
Program ini dinilai penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah konflik agraria baru. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi terhadap tata ruang daerah.
Tanpa pengendalian yang kuat, potensi tumpang tindih lahan akan terus terjadi. “Kami hadir bukan hanya untuk melakukan pengawasan, tetapi juga mendengarkan dan mencari solusi bersama,” tambahnya.
BACA JUGA:Maisinun Ajak Perempuan Babel Tingkatkan Peran dalam Pembangunan di Hari Kartini 2026
Pernyataan ini menegaskan pendekatan kolaboratif antara pusat dan daerah. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir bupati dan wali kota se-Babel, Forkopimda, serta jajaran Badan Pertanahan Nasional.
Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan bahwa reforma agraria bukan isu sektoral, melainkan agenda bersama. Ke depan, tantangan terbesar terletak pada implementasi.