Harapan di Tengah Program MBG di Perbatasan NKRI

Senin 01 Dec 2025 - 20:29 WIB
Oleh: Laily Rahmawaty

Orang-orang memanggilnya Nenek Astina, karena memang dia sudah memiliki enam orang cucu dari empat anaknya yang telah menikah.

Kemampuan Nenek Astina di dapur dalam menyiapkan makanan sudah teruji karena selama tinggal di Batam dia mengelola kantin di pabrik tempat anaknya bekerja.

Sebelum suaminya meninggal, Astina yang lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) tidak diizinkan bekerja. Suaminya memiliki perusahaan yang cukup untuk membiayai dirinya dan keempat anaknya.

BACA JUGA:Papatonk, Kerupuk Udang 'Made in Indonesia' untuk Pasar China

Setelah suaminya meninggal Astina menghidupi anak-anak dengan membuka usaha catering. Hingga usaha itu tutup, dia pun bekerja di kantin salah satu pabrik tempat anaknya bekerja.

Pekerjaan itu dilakoninya bertahun-tahun, hingga COVID-19 yang membuat pabrik tersebut tutup dan  Astina pun berhenti dari pekerjaannya.

Selama dua tahun Astina menganggur tak punya pendapat sendiri, sementara dia hidup tak seorang diri, ada satu cucu dari anaknya yang bercerai tinggal bersamanya dan masih duduk di bangku sekolah.

Secercah harapan untuk melanjutkan hidup diperoleh Astina kala mendapatkan tawaran bekerja di dapur SPPG Nongsa 3 Batu Besar.

Kini Astina tidak lagi kesulitan untuk memberikan biaya pendidikan dan makan bagi cucunya.

Tidak hanya Astina, harapan itu juga dirasakan para pekerja lainnya.

Netti (40), pekerja lainnya menceritakan pengalaman kala unboxing gaji pertamanya sebagai juru masak SPPG Nongsa 3 Batu Besar yang membuatnya tersenyum. Dulu dia hanya ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan, kini dua bulan gajinya sudah bisa membeli kulkas untuk di pakai di rumahnya.

BACA JUGA:AI dan Ilusi Kepintaran di Pendidikan Indonesia: Tantangan Generasi Pintar Tanpa Berpikir

“Alhamdulillah ya mbak, dulu cuma ngandalin uang dari suami, sekarang sudah punya uang sendiri. Jadi berani beli kebutuhan sendiri,” kata Netti.

Standar keamanan pangan MBG

Pekerjaan di dapur SPPG sudah dimulai sejak pukul 02.00 WIB dengan menyiapkan bumbu-bumbu, dilanjutkan proses memasak mulai pukul 03.00 WIB selesai pukul 05.30 WIB untuk trip pertama, dilanjut trip kedua selesai pukul 08.00 WIB.

Setelah menu MBG dimasak tidak lantas dimasukkan ke dalam omprengan, tetapi diangin-anginkan dulu setengah jam, baru di kemas dalam omprengan. Teknik ini dilakukan untuk menghindari basi pada makanan.

Kepala Dapur SPPG Nongsa 3 Batu Besar Eva Andriani menyebut, meski jam memasak MBG sudah dimulai dari jam 3 pagi, tetapi dipastikan hidangan tersebut terhindari dari kerusakan atau basi. Karena menerapkan SOP untuk keamanan panganya. Dimulai dari pemilihan bahan bakunya yang dikirim setiap jam 12 siang sehingga segar, kemudian dapur SPPG berkoordinasi dengan sekolah untuk memperhatikan jam makan siswa.

Kategori :