Setahun Program MBG, 46 Ribu UMKM Terlibat dan Diberdayakan
Relawan dapur SPPG Nongsa 3 Batu Besar Polda Kepulauan Riau memperlihatkan menu MBG yang hendak didistribusikan kepada penerimaan manfaat-Laily Rahmawaty-ANTARA
BELITONGEKSPRES.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak lebih dari 46 ribu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah terlibat dan diberdayakan selama satu tahun pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus memperkuat rantai pasok pangan nasional.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan, pemberdayaan UMKM dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang saat ini berjumlah 19.188 unit dan tersebar di 38 provinsi. UMKM berperan sebagai pemasok utama bahan baku dapur dalam pelaksanaan MBG.
Menurut Dadan, kolaborasi dengan puluhan ribu UMKM tersebut menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan, memperkuat usaha kecil, serta memastikan ketersediaan bahan makanan berkualitas bagi para penerima manfaat program.
Selain mendorong aktivitas ekonomi, program SPPG juga memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. BGN mencatat lebih dari 780 ribu tenaga kerja terlibat aktif dalam operasional dapur, mulai dari proses persiapan bahan pangan hingga distribusi makanan.
BACA JUGA:Dimulai 8 Januari, BGN Minta SPPG Lakukan Persiapan MBG 2026
BACA JUGA:BGN Catat 19.188 SPPG Dibangun Sepanjang 2025, Targetkan 55 Juta Penerima MBG pada 2026
Dadan menambahkan, keberadaan SPPG tidak hanya meningkatkan kapasitas layanan pemenuhan gizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Program ini dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat di sektor pangan.
Hingga saat ini, Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau sekitar 55,1 juta penerima manfaat di berbagai daerah. Sasaran program meliputi balita, anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.
BGN menilai MBG berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, menjaga kesehatan ibu dan anak, serta menjadi salah satu upaya pencegahan stunting sebagai fondasi menuju terwujudnya generasi emas Indonesia 2045. (ant)