Mencari Emas di Tanah Rawan
Lokasi tambang emas ilegal di Gunung Dundang Desa Prabu Kecamatan Pujut, Lombok Tengah Provinsi NTB di Lombok Tengah, Rabu (10/12/2025)--(ANTARA/Akhyar Rosidi)
MATARAM, BELITONGEKSPRES.COM – Pagi di Bukit Dundang, Dusun Kuta II, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), selalu menyajikan lanskap yang memukau.
Dari kejauhan, garis pantai yang panjang tampak seperti irisan perak, dengan gelombang kecil dari arah Mosrak yang menyapu udara.
Kawasan Mandalika yang berada tidak jauh dari sana berdenyut sebagai pusat pariwisata internasional, memantulkan optimisme pembangunan yang seolah tertata dengan baik.
Namun, harmoni itu pecah oleh kabar duka yang datang dari balik perbukitan yang jaraknya hanya sekitar lima menit perjalanan sampan dari pesisir.
Seorang penambang bernama Hemaldi ditemukan meninggal dunia setelah tertimbun longsor saat menggali emas di lubang tambang ilegal yang baru beroperasi sekitar sepekan.
Tragedi itu menguak tabir lain: ada aktivitas berisiko tinggi yang berlangsung diam-diam, hanya beberapa kilometer dari pusat perhatian wisata Mandalika.
Bukit Dundang tidak hanya menjadi titik eksplorasi liar, tetapi juga menyimpan bahaya laten. Lokasinya berada dalam kawasan konservasi dan hutan lindung, menjadikan setiap bentuk aktivitas ekstraktif rentan longsor, minim mitigasi, dan jauh dari standar keselamatan.
BACA JUGA:Masa Kanak-kanak di Era AI: Antara Harapan dan Ancaman
Kejadian tragis yang menimpa Hemaldi memunculkan kembali pertanyaan lama: bagaimana aktivitas ekonomi informal bisa bertahan, bahkan tumbuh, di tengah proyek wisata berskala internasional?
Dalam konteks tersebut, musibah Hemaldi bukan sekadar kecelakaan individual. Ia adalah cerminan dari masalah tata kelola ruang, tekanan ekonomi, serta lemahnya pengawasan di wilayah yang semestinya menjadi etalase pembangunan NTB.
Bukit Dundang, dengan segala kerawanannya, menjadi panggung dari tarik-menarik kepentingan yang lebih besar dari sekadar perburuan emas.
Batas Keselamatan yang Menipis
Setelah kejadian longsor, aparat kepolisian bergerak cepat memeriksa lokasi. Penyelidikan awal mengungkap bahwa aktivitas penambangan emas di Bukit Dundang baru berjalan sekitar satu minggu.
Namun, dalam waktu singkat itu, puluhan orang sudah tergugah oleh kabar adanya “emas di tebing” dan datang berduyun-duyun menggali. Rekaman video warga menunjukkan suasana yang nyaris menyerupai perebutan harta karun di dalam lubang sempit.