Apakah Pemanfaatan AI Menjadi Kunci dalam Persaingan Ekonomi Global?
Ilustrasi - Ilustrasi penerapan teknologi artificial intelligence (AI)-DC Studio-Freepik.com
BELITONGEKSPRES.COM - Pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) kini menjadi faktor penting dalam persaingan ekonomi global, selain sebagai inovasi digital, AI juga berfungsi sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing negara.
Di Indonesia, penerapan AI mulai merambah sektor manufaktur, pertanian, layanan publik, hingga pendidikan, meski akses yang belum merata menjadi tantangan utama.
Pakar ekonomi makro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Faiza Husnayeni Nahar, menilai negara yang lebih cepat mengadopsi AI memiliki peluang lebih besar untuk unggul dalam inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut beberapa negara telah memanfaatkan AI dalam layanan publik, seperti robot resepsionis hotel, customer service berbasis AI, dan robot pelayan restoran. Jepang, misalnya, menggunakan AI sebagai solusi menghadapi penurunan sumber daya manusia.
BACA JUGA:Agen Kecerdasan Buatan DeepSeek Siap Dirilis Akhir 2025, Tantang Dominasi AI Global
BACA JUGA:Bahaya Tersembunyi di Balik Revolusi Kecerdasan Buatan
“AI bukan sekadar teknologi, tetapi penentu kekuatan ekonomi. Jika diadopsi secara merata, dampaknya akan terlihat pada peningkatan inovasi dan efisiensi di berbagai sektor,” ujar Faiza.
Dalam sektor manufaktur, robot berbasis AI mampu menggantikan pekerjaan manual sekaligus menekan biaya produksi. Di bidang pertanian, AI dimanfaatkan untuk memprediksi cuaca, menganalisis kondisi tanah, menentukan pola tanam, dan memantau kesehatan tanaman melalui drone secara real-time.
Namun, risiko tetap ada, seperti meningkatnya persaingan harga di platform digital yang bisa menekan pelaku usaha lokal, terutama UMKM, jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan pemasaran.
Faiza menekankan pemerintah perlu menyiapkan strategi agar pemanfaatan AI tidak memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi. Langkah prioritas meliputi literasi digital dalam pendidikan, penguatan sumber daya manusia agar adaptif terhadap transformasi digital, investasi infrastruktur internet berkecepatan tinggi, serta regulasi AI yang etis dan transparan.
Ia menambahkan, konsistensi kebijakan teknologi menjadi kunci bagi Indonesia untuk meraih Indonesia Emas 2045. Faiza juga menekankan pentingnya generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga inovator.
“Generasi muda harus memahami teknologi secara utuh, meningkatkan literasi digital dan ekonomi, mengembangkan keterampilan adaptif, dan berani berinovasi,” pungkasnya. (Beritasatu)