Baca Koran belitongekspres Online - Belitong Ekspres

Trauma Anak Broken Home: Luka Bantin yang Perlu Disembuhkan

Syakirah Janeeta Dwivaya, Siswa Kelas Sosioliterasi Gen 6 SMA Negeri 1 Manggar--(Dok: Pribadi)

MANGGAR, BELITONGEKSPRES.COM - Di dalam kehidupan, pasti ada yang namanya ”keluarga” yang menjadi support system (sistem dukungan) seorang manusia. Namun, apa jadinya jika ada kehidupan tapi tanpa keluarga? Kehidupan tanpa keluarga diibaratkan sebagai pohon tanpa daun, sepi, sunyi, hampa, kosong. Tetapi, keluarga yang diinginkan setiap makhluk hidup itu seperti apa sih?

George Peter Murdoch memandang keluarga sebagai sebuah kelompok sosial yang bukan hanya berbagi tempat tinggal, tetapi juga terikat dalam kerja sama ekonomi serta berperan penting sebagai ruang pertama bagi anak untuk belajar nilai dan norma sosial (Ariyanto, 2023).

Pada setiap anak pasti ada yang memiliki keluarga yang utuh atau tidak utuh. Beberapa ahli familier menyebut khusus untuk keluarga yang tidak utuh ini disebut keluarga broken home. 

Menurut Frank Anderson (Sitanggang, 2023), broken home adalah keluarga dengan hubungan yang terputus dalam unit keluarga dan terdapat perselisihan di antara anggota keluarga yang masih utuh. Namun, Apa penyebab terjadinya broken home? Ada beberapa aspek yang menyebabkan terjadinya broken home, yaitu perpisahan karena salah satu orang tua meninggal dan perpisahan karena adanya perceraian (Willis, 2015).

Secara sosiologis, fenomena broken home bisa dikaji melalui teori konflik. Teori konflik muncul dari pemikiran Karl Mark pada tahun 1950 dan 1960. Teori konflik ini dihadirkan karena adanya pendapat masyarakat yang senantiasa berada dalam perubahan yang ditandai oleh pertikaian dan pertengkaran yang terus menerus. Dalam teori tersebut termasuk pula pertikaian yang terjadi dalam keluarga yang menyebabkan kerusakan rumah tangga.

BACA JUGA:Media Sosial & Penurunan Kualitas Pendidikan Anak

Fenomena broken home ini sangat berdampak pada psikis anak. Hal ini karena adanya pengalaman yang disebabkan oleh pertikaian yang terjadi oleh kedua orang tua, yang menyebabkan anak mengalami traumatis Adverse Childhood Experiences ACEs (Fahridza, 2024). Menurut pengalaman penulis yang pernah mengalami traumatis ACEs, trauma tersebut menumbuhkan rasa ketakutan, kemarahan, dan kurangnya kepercayaan diri terhadap seseorang yang biasanya menimbulkan rasa emosional.

Contohnya, seperti penulis sedang mengalami permasalahan dengan seseorang, di mana ia mengeluarkan nada bicara yang tinggi, sehingga membuat penulis merasakan ketakutan dan hilangnya kepercayaan diri akibat nada tinggi tersebut. Dampak dari kejadian tersebut mengakibatkan penulis menjadi kepikiran (over thinking).

Hal inilah yang membuat anak broken home menjadi trauma atas perlakuan orang lain terhadapnya. Perilaku yang terjadi bukan hanya membuat sang anak trauma semata, tetapi mengakibatkan sang anak kehilangan rasa kepercayaan terhadap seseorang.

Biasanya kehilangan kepercayaan bisa berupa takut dikhianati atau takut di tinggalkan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagi penulis hal tersebut bisa terjadi karena adanya peristiwa masa lalu yang pernah dilewati, bahkan anak broken home dapat mengalami ketakutan terbesar seperti takut ditinggalkan oleh orang tersayang.

Masykur (2021) mengungkapkan bahwa anak broken home dapat mengalami ketakutan karena pengalaman yang di alami pada masa lalu yang mengakibatkan anak tersebut trauma atas ditinggalkan seseorang. Namun bukan hanya tentang takut ditinggalkan, penulis juga berpendapat bahwa perasaan seorang anak broken home ini sangat berpengaruh terhadap perilaku anak tersebut.

BACA JUGA:Kolaborasi Orang Tua & Sekolah, Kunci Wujudkan 7 Kebiasaan Anak Hebat

Misalnya, susah mendapatkan orang yang bisa ia percayai, dan penulis mengalami kejadian tersebut. Sehingga penulis mengatakan bahwa hanya satu orang yang penulis percaya sampai saat ini, yaitu ibu.

Kepercayaan inilah yang membuat seorang anak broken home yang awalnya kehilangan kepercayaannya kembali memiliki kepercayaan. Ibu penulis pernah mengatakan bahwa, “Walaupun dulu dirimu kehilangan kepercayaan terhadap seseorang, namun setidaknya kamu masih memiliki kepercayaan terhadap ibu. Ibu akan selalu menjadi support system di setiap langkahmu, nak”.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan